A. Pengkajian
1. Biodata : lihat di tumor
tulang
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Jika klien mengalami
manifestasi klinis tumor
benigna, nyeri adalah
keluhan yang umum.
Nyeri dapat mempunyai
rentang dari ringan
sampai moderat, seperti
yang terlihat pada
kondroma, atau nyeri tak
terputus yang kuat pada
osteoma osteoid. Nyeri
dapat disebabkan oleh
invasi tumor langsung
pada jaringan lunak,
menekan saraf perifer,
atau disebakan karena
fraktur patologik.
Sebagai tambahan untuk
mengumpulkan informsi
yang berhubungan
dengan sifat nyeri klien,
perawat mengobservsi
dan mempalpasi area
yang diduga terkena. Bila
tumor menyerang
ekstremitas bawah atau
tulang-tulang kecil pada
tangan dan kaki,
pembengkakan lokal dapat
dideteksi sebagai
pembesaran neoplasma.
Pada beberapa kasus,
atropi otot atau spasmus
otot dapat terjadi. Perawat
mempalpasi tulang dan
otot untuk mendeteksi
perubahan dan
mengurangi nyeri.
Untuk tumor tulang
ganas, data dikumpulkan
serupa dengan riwayat
pada tumor tulang
benigna. Sebagai
tambahan perawat
menanyakan apakah dia
mempunyai riwayat terapi
radasi untuk pengobartan
kanker.
Manifestasi yang tampak
pada klien dengan tumor
maligna atau penyakit
metastatik bervariasi
tergantung tipe lesi
spesifik. Kebanyakan klien
mengeluhkan sekumpulan
maslah nonspesifik,
termasuk nyeri,
pembengkakan lokal,
massa yang dapat
dipalpasi dan lunak.
Ketidakmampuan yang
nnyata dapat terlihat pada
penyakit metastatik tulang.
Pada klien dengan
sarkoma Ewing, demam
ringan dapat terjadi karena
tampilan sistemik
neoplasmanya. Karena
alasan inilah sarkoma
Ewing sering
dibingungkan dengan
dengan osteomyelitis.
Kelemahan dan pucat
tampak karena anemia
juga sering terjadi.
Dalam melakukan
pengkajian
muskuloskeletal, perawat
menginspeksi area yang
terkena dan mempalpasi
ukuran massa dan
karakteristiknya. Perawat
juga perlu menentukan
kemampuan untuk
melakukan mobilitas dan
aktivitas sehari-hari.
Derajat ketidakmampuan
dapat ditentukan dengan
membandingkan
pengukuran selanjutnuya
setelah intervensi medis
dan keperawatan.
3. Pengkajian Psikososial.
Seringkali klien dengan
tumor maligna adalah
dewasa muda yang
produktif secara sosial.
Klien membutuhkan
sistem dukungan untuk
membantunya mengatasi
kondisi ini. Keluarga,
orang-orang terdekat,
serta profesi kesehatan
merupakan komponen
utama dalam sistem
dukungan.
Klien seringkali mengalami
kehilangan kontrol selama
kehidupannya ketika
diagnosis keganasan
ditentukan. Sebagai
akibatnya mereka menjadi
cemas dan takut akan
hasil penyakit mereka.
Koping terhadapnya
meupakan tantangan
berat. Klien mengalami
proses berduka, awalnya
mereka menolak. Perawat
perlu mengkaji tingkat
kecemsan dan mengkaji
tingkat proses berduka
yang dialami klien.
Perawat juga
mengidentifikasi perilaku
maladaptif, yang
mengindikasikan
mekanisme koping
inefektif.
4. Pemeriksaan
diagnostik.
Radiografi rutin dan
tomografi konvensional
sangat bermanfaatdalam
melokalisasi dan
memvisualisasi
neoplasma. Tumor
benigna dikarakterisasi
oleh: batas jelas, korteks
intak, dan tulang yang
halus, dengan periosteal
tulang yang seragam.
Computed Tomografi (CT)
kurang berguna, kecuali
dalam area anatomik yang
kompleks seperti pada
kolumna vertebralis dan
sakrum. Uji ini sangat
membantu dalam
mengevaluasi penyebaran
ke jaringan lunak.
Ketika diagnosis tumor
benigna meragukan,.
Biopsi jarum/biopsi
terbuka perlu dilakukan.
Metoda pembedahan
terbuka dilakukan untuk
mendapatkan jumlah
jaringan yang mencukupi.
Pindai tulang tidak spesifik
dalam membedakan
tumor tulang benigna dan
maligna, tapi
memungkinkan
visualsisasi yang lebih baik
pada penyebarn lesi
dibandingkan dengan
kebanyakan pemeriksaan
radiografik. MRI mungkin
membantu dalam melihat
masalah pada kolumna
spinalis.
Pada tumor maligna
semua prosedur diatas
juga dapat digunakan.
Meskipun setiap tipe
tumor mempunyai
karakteristik pola
radigrafik, temuan tertentu
tampak serupa pada
semua tumor maligna.
Tumor maligna pada
umumnya mempunyai
tampilan berbatas tidak
jelas, perusakan tulang,
periosteal irregular pada
tulang baru dan
penembusan kortikal.
Lesi metastatik mungkin
meningkat atau
menurunkan densitas
tulang, tergantung pada
jumlah aktivitas
osteoblastik. CT juga
berguna dalam
menentukan perluasan
kerusakan jaringan lunak.
Pengkajian laboratotik.
Klien dengan tumor
maligna umumnya
menunjukkan peningkatan
serum alkalin fosfatase
(ALP), mengindikasikan
tubuh sedang berusaha
untuk membentuk tulang
baru dengan
meningkatkan aktivitas
osteoblastik.
Klien dengan sarkoma
Ewing atau lesi tulang
metastatik sering
menampakkan anemia
normositik. Sebagai
tambahan lekositosis
umum pada sarkoma
Ewing.
Pada beberapa klien
dengan metastatis tulang
dari payudara, ginjal dan
paru, kadar kalsium
serum meningkat.
Destruksi tulang massif
menstimulasi peleapsan
mineral ke aliran darah.
Klien dengan sarkoma
Ewing dan metastasis
tulang sering mengalami
peningkatan laju edap
darah (ESD/LED), mungkin
berkontribusi ada inflamsi
jairngan sekunder.
Pengkajian Diagnostik
Lainnya.
a. Biopsi tulang. Biopsi
tulang dapat dilakuan
untuk menentukan tipe
tumor tulang. Biopsi
jarum bisanya dilakukan
ketika diduga ada
metasatis. Metoda terbuka
melalu insisi bedah lebih
disukai pada lesi perimer.
Ahli bedah berusaha
untuk membuat inisi
sekecil mungkin. Carut
biopsi dibuang selama
pembedahan kanker
tulang untuk
mengeliminasi sebaran
tunas kanker. Setelah
biopsy, kanker
dikelompokkan
berdasarkan derajat
tumor. Metoda yang
populer adalah sistem
TNM, yang digunaakn
untuk menentukan ukuran
tumor, keterlibatan nodus,
dan adanya metastasis.
b. Pindai tulang. Pindai
tulang sangat membantu
dalam menentukan tipe
tumor dan juga
memungkinkan visualisasi
sebaran kanker. Pindai
hampir selau dilakukan
bila diduga ada metastatis.
B. Analsisis/Diagnosa
Keperawatan yang
Mungkin:
1. Nyeri (akut/kronik)
berhubungan dengan
invasi tumor secara
langsung pada jaringan
lunak
2. Berduka antisipatorik
berhubungan dengan
perubahan citra diri atau
kemungkinan kematian
3. Gangguan citra diri
berhubungan dengan efek
kemoterapi, radiasi, atau
pembedahan.
4. Risiko cedera
berhubungan dengan
demineralisasi tulang
sekunder terhadap tumor
tulang.
5. Kecemasan
berhubungan kehilangan
kontrol dan kebutuhan
sistem dukungan.
6. Takut berhubungan
dengan diganosis medis,
kemungkinan
pembedahan atau
kematian
7. Koping individu yang
tidak efektif berhubungan
dengan tidak bisa
menerima dignosis medis
8. Koping keluarga tidak
efektif berhubungan
dengan tidak bisa
menerima diagnosa
medis.
9. Kerusakan mobilitas
fisik berhubungan dengan
ukuran dan penyebaran
tumor, kelemahan, dan
efek akhir penyakit
metastatik
10. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
peningktan prsoses
metabolik sekunde
terhadap kanker.
11. Kurang Pengetahuan
mengenai proses penyakit
dan program terapi
12. Gangguan harga diri
berhubungan dengan
hilangnya bagian tubuh,
atau perubahan kinerja
peran.
C. Perencanaan dan
Implementasi
Sasaran utama pasien
meliputi pemahaman
mengenai proses penyakit
dan program terapi,
pengontrolan nyeri,
tiadanya fraktur patologik,
pola penyelesaian masalah
yang efektif, peningktan
harga-diri dan peniadan
komplikasi.
Asuhan keperawatan
pasien yang menjalani
tulang pada beberapa hal
sama dngna pasien lain
yang menjalani
pembedahan skeletal.
Tanda vital dipantau,
kehilangan darah dikaji,
dilakukan observasi untuk
mengkaji timbulnya
trombosis vena profunda,
emboli paru, infeksi,
kontraktur, dan atropi
disuse. Bagian yang
dioperasi harus
ditinggikan untuk
mengontrol
pembengkakan, status
neurovaskuler harus
dikaji. Biasanya derah
tersbut diimobilisasi
dengan bidai, gips atau
pembelut elastis sampai
sembuh.
1. Nyeri
Perencanaan: Tujuan
Klien. Klien akan
mengalami pengurangan
nyeri b.d lesi tulang
Intervensi. Karena nyeri
sering diakibatkan karena
invasi langsung dari
tumor, maka tindakannya
adalah dengan
mengurangi ukuran atau
membuang tumor.
Kombinasi tindakan bedah
dan nonbedah digunakan
untuk meningkatkan rasa
nyaman klien dan
mengeliminasi komplikasi
dari kanker tulang.
Penatalaksanaan
Nonbedah.
Sebagai tambahan selain
pemberian analgesik
untuk mengurangi nyeri
lokal, agen kemoterapi
dan radioterapi diberikan
dalam usaha untuk
mengecilkan tumor. Pada
klien dengan metastatik
vertebral, pembelatan dan
imobilisasi dengan traksi
servikal akan membantu
mengurangi nyeri
pungung.
Terapi Medikasi. Dokter
mungkin memberikan
kemoterapi tunggal atau
kombinasi dengan radiasi
atau pembedahan. Tumor
proliferatif seperti sarkoma
Ewing sensitif pada agen
sitotoksik. Sementara
tumor lainnya seperti
kondrosarkoma seringkali
kebal-obat. Kelihatannya
kemoterapi memberikan
hasil terbaik pada lesi
metastasik kecil dan
mungkin diberikan
sebelum atau sesudah
pembedahan.
Pada kebanayakan tumor,
dokter memberikan agen
kombinasi. Saat ini tidak
ada protocol yang diteima
secara universal mengenai
agen kemoetrapi. Obat
terpilih ditentukansebagian
oleh sumber kanker
primer. Misalnya bila
metastasis terjadi karena
kanker payudara, maka
estrogen dan
progesterone umum
diberikan. Kanker tiroid
metastasik sensitive
trehadap doksorubisin
(adriamisin).
Perhatikan efek samping
dan efek toksik
masing0masing obat
serta awasi hasi tes
laboraterium dengan
cermat.
Terapi Radiasi. Radiasi
digunakan pada tumor-
tumor maligna tertentu.
Pada klien dengan
sarkoma Ewing dan
osteosarkoma dini, radiasi
mungkin merupakan
terapi pilihan untuk
mengecilkan ukuran
tumor dan tentunya juga
rasa nyeri.
Pada klien dengan tumor
metastatik, radiasi
diberikan terutama
sebagai terapi paliatif.
Terapi diarahkan lokasi
yang nyeri dan
diusahakan untuk
membrikan rentang
waktu yang nyaman bagi
klien. Dengan
perencanaan yang tepat
terapi radiasi dapat
digunakan dengan
komplikasi yang minimal.
Penatalaksanaan Bedah.
Tindakan bagi tumor
tulang primer adalah
pembedahan, sering
dikombinasikan dengan
radiasi maupun
kemoterapi.
2. Berduka Antisipatorik
Perencanaan: Tujuan
Klien. Klien akan melalui
proses berduka dengan
baik & menerima
prognosisnya.
Intervensi. Peran perawat
yang paling penting
adalah menjadi pendengar
aktif dan memungkinkan
klien dan keluargnya
untuk menyatakan
perasaan mereka. Perawat
juga bertindak sebagai
advokat bagi klien dan
keluarga serta
meningkatkan hubungan
klien-dokter. Atau dengan
kata lain, klien mungkin
tidak sepenuhnya
mengerti dengan rencana
tindakan medis/
pembedahan tapi malu
untuk bertanya. Intervensi
keperawatannya adalah
dengan memfasilitasi
komunikasi, karena hal
tersebut penting bagi
keberhasilan
penatalaksanaan klien
dengan kanker.
3. Gangguan Citra Diri
Perencanaan: Tujuan
Klien. Setelah diberikan
intervensi keperawatan
klien akan mengalami
perbaikan perasaan
mengenai citra dirinya dan
menerima perubahan fisik
yang terjadi.
Intervensi. Persepsi klien
mengenai citra dirinya
sangat erat kaitannya
dengan kemampuan klien
untuk menerima
penyakitnya. Perawat
perlu mengenali dan
menerima pandangan
klien mengenai citra diri
dan perubahannya.
Hubungan saling percaya
akan memfasilitasi klien
untuk bebas menyatakan
perasaan negatifnya.
Tunjukkan kekuatan dan
kemampuan klien yang
masih dapat
dipertahankan. Tujuan
yang realistis dalam
menjalani kehiduan juga
perlu ditegakkan bersama.
4. Risiko Cedera
Perencanaan: Tujuan
Klien. Setelah diberikan
intervensi keperawatan,
klien dapat mencegah
fraktur patologis dengan
cara mencegah jatuh dan
meminimalkan trauma.
Intervensi. Radiasi/
pembedahan mungkin
diperlukan untuk
memperkuat atau
menggantikan tulang
yang terkena untuk
mencegah fraktur.
Penatalasakanaan
Nonbedah.
Untuk memperbaiki tonus
otot, dan tentunya juga
mengurangi resiko
fraktur, klien dilatih untuk
melakukan latihan
kekuatan. Terapi fisik
berbasis ambulasi juga
sering disarankan.
Penatalaksanaan Bedah.
Prinsip pembedahan pada
fraktur metaststik yaitu:
a. Mengganti sebanyak
mungkin tulang yang
terkena
b. Berhati-hati dan
menyeluruh untuk
menghindari prosedur
ulangan.
c. Berusaha untuk
mengambalikan status
fungsional klien dengan
hospitalisasi dan
imobilisasi minimal.
5. Kecemasan
Perencanaan: Tujuan
Klien. Setelah diberikan
tindakan keperawatan
klien akan mengalami
penurunan kecemasan.
Intervensi. Perawat perlu
mengkaji tingkat
kecemasan klien dan
faktor yang
menyebabkannya.
Kehilangan kontrol pada
situsi klien dapat dikurangi
dengan membolehkan
klien untuk berpartisipasi
aktif dalam pengambilan
keputusan. Rasa takut dan
ketidaktahuan juga
berkontribusi pada
kecemasan.
0
Apakah kamu seorang new blogger kayak aku? atau kamu sudah tahu Alexa Rank? Alexa Rank adalah sebuah widget yang di gunakan untuk mengetahui posisi ranking web/blog kita di internet. Alexa Rank berbeda dengan widget lain seperti Hits Stat atau Hits Counter. Buat apa Alexa Rank? Alexa Rank biasanya di gunakan untuk membuat suatu kredibilitas blog, semakin rendah jumlah Alexa, maka semakin bagus atau blog kita semakin populer sering di kunjungi oleh orang. Alexa yang rendah bisa kita manfaatin untuk bisnis. Pada website bisnis tertentu membutuhkan syarat Alexa Rank yang rendah pada web/blog yang mau di daftarkan. Kalau belum pasang,
- Berikut caranya:
- Masuk ke website Alexa, www.alexa.com.
- Klik register, dan isikan data-data yang di minta.
- Setelah data-data sudah diisi, kamu masuk ke halaman.
- Login dan isikan alamat email dan password yang kamu pakai daftar tadi.
- Setelah login, kamu menuju ke halaman ''For Site Owners''.
- Pada halaman ini, kamu pilih Get Traffic Rank Widget.
- Selanjutnya kamu akan di minta memilih tipe widget dan masukkan alamat URL web/blog kamu, pilih Alexa Traffic Rank Button, dan klik Build Widget.
- Login ke blogger.
- Pilih ''Rancangan''
- Klik ''Tambah Gadget''.
- Pilih ''HTML and Javascript.
- Beri nama gadget baru tersebut.
- Pastekan kode Alexa tadi dan klik save.
- Selesai
Berikut beberapa cara untuk mengkoneksikan akun Twitter dengan akun Facebook.
1. Kunjungi laman ''Twitter for Facebook'' milik Twitter: http://twitter.com/widgets/facebook, klik instal Twitter in Facebook, masukkan username dan password Anda jika di minta
2. Sebuah aplikasi 3rd Party Facebook bernama ''selective twitter'' http://apps.facebook.com/selectivetwitter/. Memudahkan Anda untuk memilih tweet mana yang akan di update, menjadi status Facebook, hanya dengan menambahkan #Fb pada akhir tweet.
Demikian tulisan saya, semoga bermanfaat..
1. Kunjungi laman ''Twitter for Facebook'' milik Twitter: http://twitter.com/widgets/facebook, klik instal Twitter in Facebook, masukkan username dan password Anda jika di minta
2. Sebuah aplikasi 3rd Party Facebook bernama ''selective twitter'' http://apps.facebook.com/selectivetwitter/. Memudahkan Anda untuk memilih tweet mana yang akan di update, menjadi status Facebook, hanya dengan menambahkan #Fb pada akhir tweet.
Demikian tulisan saya, semoga bermanfaat..
Jumpa lagi... kali ini saya akan memposting ''stream video youtube lewat hp''. Tanpa berlama-lama langsung aja ke TKP. Berikut langkah-langkahnya:
1. Settingan GPRS di HP Anda harus aktif terlebih dahulu
2. Kalau sudah aktif, masuk ke menu setting, konektivitas, setting streaming
3. Pada setting streaming, klik koneksi internet yang Anda pakai. Di bawahnya ada tulisan pakai proxy, pilih ''tidak''
4. Setting selesai, sekarang tinggal cara menggunakannya
5. Masuk ke layanan internet, dan masukkan alamat webnya www.youtube.com. Secara otomatis Anda akan di bawa ke youtube mobile
6. Pilih video yang ingin di mainkan, untuk mempermudah pencarian video, tulis judul video yang Anda inginkan di kotak pencarian
7. Kalau sudah ketemu, klik gambar video tersebut, maka akan ada tulisan ''menyambung ke server'', berhasil nyambung dan selamat menonton.
1. Settingan GPRS di HP Anda harus aktif terlebih dahulu
2. Kalau sudah aktif, masuk ke menu setting, konektivitas, setting streaming
3. Pada setting streaming, klik koneksi internet yang Anda pakai. Di bawahnya ada tulisan pakai proxy, pilih ''tidak''
4. Setting selesai, sekarang tinggal cara menggunakannya
5. Masuk ke layanan internet, dan masukkan alamat webnya www.youtube.com. Secara otomatis Anda akan di bawa ke youtube mobile
6. Pilih video yang ingin di mainkan, untuk mempermudah pencarian video, tulis judul video yang Anda inginkan di kotak pencarian
7. Kalau sudah ketemu, klik gambar video tersebut, maka akan ada tulisan ''menyambung ke server'', berhasil nyambung dan selamat menonton.
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
SLE (Sistemisc Lupus
Erythematosus) adalah
penyakit radang
multisistem yang
sebabnya belum
diketahui, dengan
perjalanan penyakit yang
mungkin akut dan
fulminan atau kronik
remisi dan eksaserbasi
disertai oleh terdapatnya
berbagai macam
autoantibodi dalam tubuh.
B. Patofisiologi
Penyakit SLE terjadi akibat
terganggunya regulasi
kekebalan yang
menyebabkan
peningkatanautoantibodi
yang berlebihan.
Gangguan imunoregulasi
ini ditimbulkan oleh
kombinasi antara faktor-
faktor genetik, hormonal
( sebagaimana terbukti
oleh awitan penyakit yang
biasanya terjadi selama
usia reproduktif) dan
lingkungan (cahaya
matahari, luka bakar
termal). Obat-obat
tertentu seperti hidralazin,
prokainamid, isoniazid,
klorpromazin dan
beberapa preparat
antikonvulsan di samping
makanan seperti
kecambah alfalfa turut
terlibat dalam penyakit
SLE- akibat senyawa kimia
atau obat-obatan.
Pada SLE, peningkatan
produksi autoantibodi
diperkirakan terjadi akibat
fungsi sel T-supresor
yang abnormal sehingga
timbul penumpukan
kompleks imun dan
kerusakan jaringan.
Inflamasi akan
menstimulasi antigen
yang selanjutnya
serangsang antibodi
tambahan dan siklus
tersebut berulang kembali.
C. Manifestasi Klinis
1. Sistem Muskuloskeletal
Artralgia, artritis (sinovitis),
pembengkakan sendi,
nyeri tekan dan rasa nyeri
ketika bergerak, rasa kaku
pada pagi hari.
2. Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang
terdiri atas ruam
berbentuk kupu-kupu
yang melintang pangkal
hidung serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai
mukosa pipi atau palatum
durum.
3. Sistem kardiak
Perikarditis merupakan
manifestasi kardiak.
4. Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
5. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole
terminalis yang
menimbulkan lesi papuler,
eritematous dan purpura
di ujung jari kaki, tangan,
siku serta permukaan
ekstensor lengan bawah
atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
6. Sistem perkemihan
Glomerulus renal yang
biasanya terkena.
7. Sistem saraf
Spektrum gangguan
sistem saraf pusat sangat
luas dan mencakup
seluruh bentuk penyakit
neurologik, sering terjadi
depresi dan psikosis.
D. Evaluasi Diagnostik
Diagnosis SLE dibuat
berdasarkan pada riwayat
sakit yang lengkap dan
hasil pemeriksaan darah.
Gejala yang klasik
mencakup demam,
keletihan serta penurunan
berat badan dan
kemungkinan pula artritis,
peuritis dan perikarditis.
Pemeriksaan serum :
anemia sedang hingga
berat, trombositopenia,
leukositosis atau
leukopenia dan antibodi
antinukleus yang positif.
Tes imunologi diagnostik
lainnya mendukung tapi
tidak memastikan
diagnosis.
E. Penatalaksanaan
Medis
1. Preparat NSAID untuk
mengatasi manifestasi
klinis minor dan dipakai
bersama kortikosteroid,
secara topikal untuk
kutaneus.
2. Obat antimalaria untuk
gejal kutaneus,
muskuloskeletal dan
sistemik ringan SLE
3. Preparat
imunosupresan (pengkelat
dan analog purion) untuk
fungsi imun.
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Anamnesis riwayat
kesehatan sekarang dan
pemeriksaan fisik
difokuskan pada gejala
sekarang dan gejala yang
pernah dialami seperti
keluhan mudah lelah,
lemah, nyeri, kaku,
demam/panas, anoreksia
dan efek gejala tersebut
terhadap gaya hidup serta
citra diri pasien.
2. Kulit
Ruam eritematous, plak
eritematous pada kulit
kepala, muka atau leher.
3. Kardiovaskuler
Friction rub perikardium
yang menyertai
miokarditis dan efusi
pleura.
Lesi eritematous papuler
dan purpura yang
menjadi nekrosis
menunjukkan gangguan
vaskuler terjadi di ujung
jari tangan, siku, jari kaki
dan permukaan ekstensor
lengan bawah atau sisi
lateral tanga.
4. Sistem Muskuloskeletal
Pembengkakan sendi,
nyeri tekan dan rasa nyeri
ketika bergerak, rasa kaku
pada pagi hari.
5. Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang
terdiri atas ruam
berbentuk kupu-kupu
yang melintang pangkal
hidung serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai
mukosa pipi atau palatum
durum.
6. Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
7. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole
terminalis yang
menimbulkan lesi papuler,
eritematous dan purpura
di ujung jari kaki, tangan,
siku serta permukaan
ekstensor lengan bawah
atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
8. Sistem Renal
Edema dan hematuria.
9. Sistem saraf
Sering terjadi depresi dan
psikosis, juga serangan
kejang-kejang, korea
ataupun manifestasi SSP
lainnya.
B. Masalah Keperawatan
1. Nyeri
2. Keletihan
3. Gangguan integritas
kulit
4. Kerusakan mobilitas
fisik
5. Gangguan citra tubuh
C. Intervensi
1. Nyeri berhubungan
dengan inflamasi dan
kerusakan jaringan.
Tujuan : perbaikan dalam
tingkat kennyamanan
Intervensi :
a. Laksanakan sejumlah
tindakan yang
memberikan kenyamanan
(kompres panas /dingin;
masase, perubahan
posisi, istirahat; kasur
busa, bantal penyangga,
bidai; teknik relaksasi,
aktivitas yang
mengalihkan perhatian)
b. Berikan preparat
antiinflamasi, analgesik
seperti yang dianjurkan.
c. Sesuaikan jadwal
pengobatan untuk
memenuhi kebutuhan
pasien terhadap
penatalaksanaan nyeri.
d. Dorong pasien untuk
mengutarakan
perasaannya tentang rasa
nyeri serta sifat kronik
penyakitnya.
e. Jelaskan patofisiologik
nyeri dan membantu
pasien untuk menyadari
bahwa rasa nyeri sering
membawanya kepada
metode terapi yang belum
terbukti manfaatnya.
f. Bantu dalam mengenali
nyeri kehidupan
seseorang yang
membawa pasien untuk
memakai metode terapi
yang belum terbukti
manfaatnya.
g. Lakukan penilaian
terhadap perubahan
subjektif pada rasa nyeri.
2. Keletihan berhubungan
dengan peningkatan
aktivitas penyakit, rasa
nyeri, depresi.
Tujuan : mengikutsertakan
tindakan sebagai bagian
dari aktivitas hidup sehari-
hari yang diperlukan
untuk mengubah.
Intervensi :
a. Beri penjelasan tentang
keletihan :
- hubungan antara
aktivitas penyakit dan
keletihan
- menjelaskan tindakan
untuk memberikan
kenyamanan sementara
melaksanakannya
- mengembangkan dan
mempertahankan
tindakan rutin unutk tidur
(mandi air hangat dan
teknik relaksasi yang
memudahkan tidur)
- menjelaskan pentingnya
istirahat untuk
mengurangi stres
sistemik, artikuler dan
emosional
- menjelaskan cara
mengggunakan teknik-
teknik untuk menghemat
tenaga
- kenali faktor-faktor fisik
dan emosional yang
menyebabkan kelelahan.
b. Fasilitasi
pengembangan jadwal
aktivitas/istirahat yang
tepat.
c. Dorong kepatuhan
pasien terhadap program
terapinya.
d. Rujuk dan dorong
program kondisioning.
e. Dorong nutrisi adekuat
termasuk sumber zat besi
dari makanan dan
suplemen.
3. Kerusakan mobilitas
fisik berhubungan dengan
penurunan rentang gerak,
kelemahan otot, rasa nyeri
pada saat bergerak,
keterbatasan daya tahan
fisik.
Tujuan : mendapatkan
dan mempertahankan
mobilitas fungsional yang
optimal.
Intervensi :
a. Dorong verbalisasi
yang berkenaan dengan
keterbatasan dalam
mobilitas.
b. Kaji kebutuhan akan
konsultasi terapi okupasi/
fisioterapi :
- Menekankan kisaran
gherak pada sendi yang
sakit
- Meningkatkan
pemakaian alat bantu
- Menjelaskan pemakaian
alas kaki yang aman.
- Menggunakan postur/
pengaturan posisi tubuh
yang tepat.
c. Bantu pasien mengenali
rintangan dalam
lingkungannya.
d. Dorong kemandirian
dalam mobilitas dan
membantu jika
diperlukan.
- Memberikan waktu
yang cukup untuk
melakukan aktivitas
- Memberikan
kesempatan istirahat
sesudah melakukan
aktivitas.
- Menguatkan kembali
prinsip perlindungan sendi
4. Gangguan citra tubuh
berhubungqan dengan
perubahan dan
ketergantungan fisaik serta
psikologis yang
diakibatkan penyakit
kronik.
Tujuan : mencapai
rekonsiliasi antara konsep
diri dan erubahan fisik
serta psikologik yang
ditimbulkan enyakit.
Intervensi :
a. Bantu pasien untuk
mengenali unsur-unsur
pengendalian gejala
penyakit dan
penanganannya.
b. Dorong verbalisasi
perasaan, persepsi dan
rasa takut
- Membantu menilai
situasi sekarang dan
menganli masahnya.
- Membantu menganli
mekanisme koping pada
masa lalu.
- Membantu mengenali
mekanisme koping yang
efektif.
5. Kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan
perubahan fungsi barier
kulit, penumpukan
kompleks imun.
Tujuan : pemeliharaan
integritas kulit.
Intervensi :
a. Lindungi kulit yang
sehat terhadap
kemungkinan maserasi
b. Hilangkan kelembaban
dari kulit
c. Jaga dengan cermat
terhadap resiko terjadinya
sedera termal akibat
penggunaan kompres
hangat yang terlalu panas.
d. Nasehati pasien untuk
menggunakan kosmetik
dan preparat tabir surya.
e. Kolaborasi pemberian
NSAID dan kortikosteroid.
A. Pengertian
SLE (Sistemisc Lupus
Erythematosus) adalah
penyakit radang
multisistem yang
sebabnya belum
diketahui, dengan
perjalanan penyakit yang
mungkin akut dan
fulminan atau kronik
remisi dan eksaserbasi
disertai oleh terdapatnya
berbagai macam
autoantibodi dalam tubuh.
B. Patofisiologi
Penyakit SLE terjadi akibat
terganggunya regulasi
kekebalan yang
menyebabkan
peningkatanautoantibodi
yang berlebihan.
Gangguan imunoregulasi
ini ditimbulkan oleh
kombinasi antara faktor-
faktor genetik, hormonal
( sebagaimana terbukti
oleh awitan penyakit yang
biasanya terjadi selama
usia reproduktif) dan
lingkungan (cahaya
matahari, luka bakar
termal). Obat-obat
tertentu seperti hidralazin,
prokainamid, isoniazid,
klorpromazin dan
beberapa preparat
antikonvulsan di samping
makanan seperti
kecambah alfalfa turut
terlibat dalam penyakit
SLE- akibat senyawa kimia
atau obat-obatan.
Pada SLE, peningkatan
produksi autoantibodi
diperkirakan terjadi akibat
fungsi sel T-supresor
yang abnormal sehingga
timbul penumpukan
kompleks imun dan
kerusakan jaringan.
Inflamasi akan
menstimulasi antigen
yang selanjutnya
serangsang antibodi
tambahan dan siklus
tersebut berulang kembali.
C. Manifestasi Klinis
1. Sistem Muskuloskeletal
Artralgia, artritis (sinovitis),
pembengkakan sendi,
nyeri tekan dan rasa nyeri
ketika bergerak, rasa kaku
pada pagi hari.
2. Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang
terdiri atas ruam
berbentuk kupu-kupu
yang melintang pangkal
hidung serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai
mukosa pipi atau palatum
durum.
3. Sistem kardiak
Perikarditis merupakan
manifestasi kardiak.
4. Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
5. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole
terminalis yang
menimbulkan lesi papuler,
eritematous dan purpura
di ujung jari kaki, tangan,
siku serta permukaan
ekstensor lengan bawah
atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
6. Sistem perkemihan
Glomerulus renal yang
biasanya terkena.
7. Sistem saraf
Spektrum gangguan
sistem saraf pusat sangat
luas dan mencakup
seluruh bentuk penyakit
neurologik, sering terjadi
depresi dan psikosis.
D. Evaluasi Diagnostik
Diagnosis SLE dibuat
berdasarkan pada riwayat
sakit yang lengkap dan
hasil pemeriksaan darah.
Gejala yang klasik
mencakup demam,
keletihan serta penurunan
berat badan dan
kemungkinan pula artritis,
peuritis dan perikarditis.
Pemeriksaan serum :
anemia sedang hingga
berat, trombositopenia,
leukositosis atau
leukopenia dan antibodi
antinukleus yang positif.
Tes imunologi diagnostik
lainnya mendukung tapi
tidak memastikan
diagnosis.
E. Penatalaksanaan
Medis
1. Preparat NSAID untuk
mengatasi manifestasi
klinis minor dan dipakai
bersama kortikosteroid,
secara topikal untuk
kutaneus.
2. Obat antimalaria untuk
gejal kutaneus,
muskuloskeletal dan
sistemik ringan SLE
3. Preparat
imunosupresan (pengkelat
dan analog purion) untuk
fungsi imun.
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Anamnesis riwayat
kesehatan sekarang dan
pemeriksaan fisik
difokuskan pada gejala
sekarang dan gejala yang
pernah dialami seperti
keluhan mudah lelah,
lemah, nyeri, kaku,
demam/panas, anoreksia
dan efek gejala tersebut
terhadap gaya hidup serta
citra diri pasien.
2. Kulit
Ruam eritematous, plak
eritematous pada kulit
kepala, muka atau leher.
3. Kardiovaskuler
Friction rub perikardium
yang menyertai
miokarditis dan efusi
pleura.
Lesi eritematous papuler
dan purpura yang
menjadi nekrosis
menunjukkan gangguan
vaskuler terjadi di ujung
jari tangan, siku, jari kaki
dan permukaan ekstensor
lengan bawah atau sisi
lateral tanga.
4. Sistem Muskuloskeletal
Pembengkakan sendi,
nyeri tekan dan rasa nyeri
ketika bergerak, rasa kaku
pada pagi hari.
5. Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang
terdiri atas ruam
berbentuk kupu-kupu
yang melintang pangkal
hidung serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai
mukosa pipi atau palatum
durum.
6. Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
7. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole
terminalis yang
menimbulkan lesi papuler,
eritematous dan purpura
di ujung jari kaki, tangan,
siku serta permukaan
ekstensor lengan bawah
atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
8. Sistem Renal
Edema dan hematuria.
9. Sistem saraf
Sering terjadi depresi dan
psikosis, juga serangan
kejang-kejang, korea
ataupun manifestasi SSP
lainnya.
B. Masalah Keperawatan
1. Nyeri
2. Keletihan
3. Gangguan integritas
kulit
4. Kerusakan mobilitas
fisik
5. Gangguan citra tubuh
C. Intervensi
1. Nyeri berhubungan
dengan inflamasi dan
kerusakan jaringan.
Tujuan : perbaikan dalam
tingkat kennyamanan
Intervensi :
a. Laksanakan sejumlah
tindakan yang
memberikan kenyamanan
(kompres panas /dingin;
masase, perubahan
posisi, istirahat; kasur
busa, bantal penyangga,
bidai; teknik relaksasi,
aktivitas yang
mengalihkan perhatian)
b. Berikan preparat
antiinflamasi, analgesik
seperti yang dianjurkan.
c. Sesuaikan jadwal
pengobatan untuk
memenuhi kebutuhan
pasien terhadap
penatalaksanaan nyeri.
d. Dorong pasien untuk
mengutarakan
perasaannya tentang rasa
nyeri serta sifat kronik
penyakitnya.
e. Jelaskan patofisiologik
nyeri dan membantu
pasien untuk menyadari
bahwa rasa nyeri sering
membawanya kepada
metode terapi yang belum
terbukti manfaatnya.
f. Bantu dalam mengenali
nyeri kehidupan
seseorang yang
membawa pasien untuk
memakai metode terapi
yang belum terbukti
manfaatnya.
g. Lakukan penilaian
terhadap perubahan
subjektif pada rasa nyeri.
2. Keletihan berhubungan
dengan peningkatan
aktivitas penyakit, rasa
nyeri, depresi.
Tujuan : mengikutsertakan
tindakan sebagai bagian
dari aktivitas hidup sehari-
hari yang diperlukan
untuk mengubah.
Intervensi :
a. Beri penjelasan tentang
keletihan :
- hubungan antara
aktivitas penyakit dan
keletihan
- menjelaskan tindakan
untuk memberikan
kenyamanan sementara
melaksanakannya
- mengembangkan dan
mempertahankan
tindakan rutin unutk tidur
(mandi air hangat dan
teknik relaksasi yang
memudahkan tidur)
- menjelaskan pentingnya
istirahat untuk
mengurangi stres
sistemik, artikuler dan
emosional
- menjelaskan cara
mengggunakan teknik-
teknik untuk menghemat
tenaga
- kenali faktor-faktor fisik
dan emosional yang
menyebabkan kelelahan.
b. Fasilitasi
pengembangan jadwal
aktivitas/istirahat yang
tepat.
c. Dorong kepatuhan
pasien terhadap program
terapinya.
d. Rujuk dan dorong
program kondisioning.
e. Dorong nutrisi adekuat
termasuk sumber zat besi
dari makanan dan
suplemen.
3. Kerusakan mobilitas
fisik berhubungan dengan
penurunan rentang gerak,
kelemahan otot, rasa nyeri
pada saat bergerak,
keterbatasan daya tahan
fisik.
Tujuan : mendapatkan
dan mempertahankan
mobilitas fungsional yang
optimal.
Intervensi :
a. Dorong verbalisasi
yang berkenaan dengan
keterbatasan dalam
mobilitas.
b. Kaji kebutuhan akan
konsultasi terapi okupasi/
fisioterapi :
- Menekankan kisaran
gherak pada sendi yang
sakit
- Meningkatkan
pemakaian alat bantu
- Menjelaskan pemakaian
alas kaki yang aman.
- Menggunakan postur/
pengaturan posisi tubuh
yang tepat.
c. Bantu pasien mengenali
rintangan dalam
lingkungannya.
d. Dorong kemandirian
dalam mobilitas dan
membantu jika
diperlukan.
- Memberikan waktu
yang cukup untuk
melakukan aktivitas
- Memberikan
kesempatan istirahat
sesudah melakukan
aktivitas.
- Menguatkan kembali
prinsip perlindungan sendi
4. Gangguan citra tubuh
berhubungqan dengan
perubahan dan
ketergantungan fisaik serta
psikologis yang
diakibatkan penyakit
kronik.
Tujuan : mencapai
rekonsiliasi antara konsep
diri dan erubahan fisik
serta psikologik yang
ditimbulkan enyakit.
Intervensi :
a. Bantu pasien untuk
mengenali unsur-unsur
pengendalian gejala
penyakit dan
penanganannya.
b. Dorong verbalisasi
perasaan, persepsi dan
rasa takut
- Membantu menilai
situasi sekarang dan
menganli masahnya.
- Membantu menganli
mekanisme koping pada
masa lalu.
- Membantu mengenali
mekanisme koping yang
efektif.
5. Kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan
perubahan fungsi barier
kulit, penumpukan
kompleks imun.
Tujuan : pemeliharaan
integritas kulit.
Intervensi :
a. Lindungi kulit yang
sehat terhadap
kemungkinan maserasi
b. Hilangkan kelembaban
dari kulit
c. Jaga dengan cermat
terhadap resiko terjadinya
sedera termal akibat
penggunaan kompres
hangat yang terlalu panas.
d. Nasehati pasien untuk
menggunakan kosmetik
dan preparat tabir surya.
e. Kolaborasi pemberian
NSAID dan kortikosteroid.
A.Pengertian
Gegantisme adalah suatu
keadaan yang abnormal
pada anak yang
disebabkan oleh produksi
GH yang berlebihan.
B.Etiologi
Tumor hipofise : adenoma
eosinofilik
C.Manifestasi klinik
Lingkar kepala bertambah
Hidung lebar
Lidah membesar
Wajah kasar
Mandibula tumbuh
berlebihan
Gigi menjadi terpisah-
pisah
Jari dan ibu jari tumbuh
menebal
Kifosis
Kelelehan dan kelemahan
gejala awal
Hipogonadisme
Keterlambatan maturasi
seksual
Kehilangan penglihatan
pada pemeriksaan lapang
pandang secara seksama
D.Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Kadar GH berlebihan
mencapai 400 ng/ml
Tes toleransi glukosa :
hiperglikemia
Kadar somatomidin
meningkat 2,6-21,7 U/ml
( 0,31-1,4 U/ml)
CT. Scan
MRI
E.Penatalaksanaan
Intervensi bedah dilakukan
apabila terjadi peningkatan
tekanan intra kranial
Radiasi konvensional /
sinar proton energi tinggi
apabila papil edema dan
penyempitan lapang
pandang
1.Pengkajian
1. Riwayat penyakit dahulu ?
2. Riwayat penyakit
sekarang ?
3. Riwayat penyakit
keluarga ?
4. Riwayat tumbuh
kembang ?
5. Apakah klien mengalami
penambahan pada lingkar
kepala
6. Apakah klien mengalami
pembesaran hidung ?
7. Apakah klien mengalami
pembesaran hidung ?
8. Apakah mandibula
tumbuh berlebihan ?
9. Apakah klien mengalami
gigi yang terpisah-pisah
10. Apakah jari dan ibu jari
tumbuh menebal ?
11. Apakah klien mengalami
kifosis ?
12. Apakah klien mengalami
kelelahan dan kelemahan
pada gejala awal ?
13. Apakah klien mengalami
hipogonadisme ?
14. Apakah kien mengalami
keterlambatan maturasi
seksual ?
15. Apakah terjadi tanda-
tanda peningkatan tekanan
intra kranial ?
16. Apakah klien mengalami
kehilangan penglihatan
pada pemeriksaan lapang
pandang ?
Diagnosa keperawatan
Gangguan bodi image
b.d perubahan struktur
tubuh
Tujuan : tidak terjadi
penurunan bodi image
pada klien
Kriteria :
Klien dapat menerima
perubahan diri
Klien mau bersosialisasi
dengan lingkungan
Intervensi :
Pertahankan lingkungan
yang kondusif untuk
membicarakan perubahan
citra tubuh
Diskusikan perasaan yang
berhubungan dengan
perubahan yang dialami
oleh klien
Kaji klien dengan
mengidentifikasi dan
mengembangkan
mekanisme koping untuk
mengatasi perubahan fisik
Berikan dorongan untuk
mengungkapkan perasaan
yang berhubungan
dengan perubahan fisik
Bantu klien dalam
mengembangkan
mekanisme koping untuk
mengatasi perubahan fisik
Bantu pasien dalam
mengembangkan rencana
untuk menyelaraskan
semua perubahan ke
dalam gaya hidup
Berikan penekanan
perilaku yang
memperlihatkan
penerimam terhadap
perubahan
Resiko tinggi
perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh b.d peningkatan
metabolisme, lidah
membesar, mandibula
tumbuh berlebih, gigi
menjadi terpisah-pisah.
Tujuan : nutrisi klien
adekuat
Kriteria :
Klien tidak mengalami
penurunan berat badan
yang berarti
Nafsu makan klien
meningkat
Intervensi :
Beri makan sedikit tapi
sering (termasuk cairan)
Masukkan makanan
kesukaan dalam diet
Anjurkan untuk makan
sendiri, bila mungkin
(kelemahan otot dapat
membuat keterbatasan)
Memilih makanan dari
daftar menu
Atur makanan secara
menarik diatas nampan
Atur jadwal pemberian
makanan
Berikan makanan yang
bergizi tinggi dan
berkualitas
Perubahan proses
keluarga b.d keluarga
dengan gegantisme
Tujuan :
Mempersiapkan keluarga
untuk dapat merawat
anggota dengan
gegantisme
Keluarga dapat
beradaptasi dengan
penyakitnya
Kriteria : Keluarga dapat
mengatasi masalah yang
timbul dari adanya tanda
dan gejala yang muncul
dan memberikan atau
menyediakan lingkungan
yang sesuai dengan
kondisi klien
Intervensi :
Berikan dukungan
emosional pada keluarga
dan klien
Anjurkan orang tua untuk
mengekspresikan
perasaannya
Anjurkan klien untuk
berbagi rasa tidak
berdaya, malu, ketakutan
yang berkaitan dengan
manifestasi penyakit.
Bertindak sebagai pembela
dan penghubung klien
dan keluarga dengan
anggota tim perawatan
kesehatan lainnya
Anjurkan klien untuk
bersosialisasi dengan
lingkungan sekitar
Dorong keterlibatan klien
dalam aktivitas rekreasi
dan aktivitas pengalih
yang sesuai dengan usia.
Kelelahan b.d
hipermetabolik dengan
peningkatan kebutuhan
energi
Tujuan : menunjukkan
perbaikan kemampuan
berpartisipasi dalam
melakukan aktifitas
Kriteria :
Tidak terjadi kelelahan
yang berarti pada klien
setelah melakukan
aktivitas
Klien tidak merasa malas
saat akan melakukan
aktivitas
Intervensi :
Kaji tanda-tanda vital
Ciptakan lingkungan yang
tenang : ruangan yang
dingin, turunkan stimulasi
sensori
Sarankan klien untuk
mengurangi aktivitas dan
meningkatkan istirahat di
tempat tidur
Berikan tindakan yang
membuat klien nyaman;
sentuhan, masage.
Memberikan aktivitas
pengganti yang
menyenagkan dan tenang;
membaca, mendengarkan
radio dan menonton
televisi
Berikan obat sesuai
indikasi; sedatif
(fenobarbital )
DAFTAR PUSTAKA
1. Nettina, Sandra M.
Pedoman Praktik
Keperawatan. Alih bahasa
Setiawan dkk. Ed. 1.
Jakarta : EGC; 2001
2. Smeltzer Suzanne C. Buku
Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner &
Suddarth. Alih bahasa
Agung Waluyo, dkk.
Editor Monica Ester, dkk.
Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
3. Tucker, Susan Martin et al.
Patient care Standards :
Nursing Process,
diagnosis, And Outcome.
Alih bahasa Yasmin asih.
Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
4. Price, Sylvia Anderson.
Pathophysiology : Clinical
Concepts Of Disease
Processes. Alih Bahasa
Peter Anugrah. Ed. 4.
Jakarta : EGC; 1994
5. Reeves, Charlene J et al.
Medical-Surgical Nursing.
Alih Bahasa Joko Setyono.
Ed. I. Jakarta : Salemba
Medika; 2001
Gegantisme adalah suatu
keadaan yang abnormal
pada anak yang
disebabkan oleh produksi
GH yang berlebihan.
B.Etiologi
Tumor hipofise : adenoma
eosinofilik
C.Manifestasi klinik
Lingkar kepala bertambah
Hidung lebar
Lidah membesar
Wajah kasar
Mandibula tumbuh
berlebihan
Gigi menjadi terpisah-
pisah
Jari dan ibu jari tumbuh
menebal
Kifosis
Kelelehan dan kelemahan
gejala awal
Hipogonadisme
Keterlambatan maturasi
seksual
Kehilangan penglihatan
pada pemeriksaan lapang
pandang secara seksama
D.Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Kadar GH berlebihan
mencapai 400 ng/ml
Tes toleransi glukosa :
hiperglikemia
Kadar somatomidin
meningkat 2,6-21,7 U/ml
( 0,31-1,4 U/ml)
CT. Scan
MRI
E.Penatalaksanaan
Intervensi bedah dilakukan
apabila terjadi peningkatan
tekanan intra kranial
Radiasi konvensional /
sinar proton energi tinggi
apabila papil edema dan
penyempitan lapang
pandang
1.Pengkajian
1. Riwayat penyakit dahulu ?
2. Riwayat penyakit
sekarang ?
3. Riwayat penyakit
keluarga ?
4. Riwayat tumbuh
kembang ?
5. Apakah klien mengalami
penambahan pada lingkar
kepala
6. Apakah klien mengalami
pembesaran hidung ?
7. Apakah klien mengalami
pembesaran hidung ?
8. Apakah mandibula
tumbuh berlebihan ?
9. Apakah klien mengalami
gigi yang terpisah-pisah
10. Apakah jari dan ibu jari
tumbuh menebal ?
11. Apakah klien mengalami
kifosis ?
12. Apakah klien mengalami
kelelahan dan kelemahan
pada gejala awal ?
13. Apakah klien mengalami
hipogonadisme ?
14. Apakah kien mengalami
keterlambatan maturasi
seksual ?
15. Apakah terjadi tanda-
tanda peningkatan tekanan
intra kranial ?
16. Apakah klien mengalami
kehilangan penglihatan
pada pemeriksaan lapang
pandang ?
Diagnosa keperawatan
Gangguan bodi image
b.d perubahan struktur
tubuh
Tujuan : tidak terjadi
penurunan bodi image
pada klien
Kriteria :
Klien dapat menerima
perubahan diri
Klien mau bersosialisasi
dengan lingkungan
Intervensi :
Pertahankan lingkungan
yang kondusif untuk
membicarakan perubahan
citra tubuh
Diskusikan perasaan yang
berhubungan dengan
perubahan yang dialami
oleh klien
Kaji klien dengan
mengidentifikasi dan
mengembangkan
mekanisme koping untuk
mengatasi perubahan fisik
Berikan dorongan untuk
mengungkapkan perasaan
yang berhubungan
dengan perubahan fisik
Bantu klien dalam
mengembangkan
mekanisme koping untuk
mengatasi perubahan fisik
Bantu pasien dalam
mengembangkan rencana
untuk menyelaraskan
semua perubahan ke
dalam gaya hidup
Berikan penekanan
perilaku yang
memperlihatkan
penerimam terhadap
perubahan
Resiko tinggi
perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh b.d peningkatan
metabolisme, lidah
membesar, mandibula
tumbuh berlebih, gigi
menjadi terpisah-pisah.
Tujuan : nutrisi klien
adekuat
Kriteria :
Klien tidak mengalami
penurunan berat badan
yang berarti
Nafsu makan klien
meningkat
Intervensi :
Beri makan sedikit tapi
sering (termasuk cairan)
Masukkan makanan
kesukaan dalam diet
Anjurkan untuk makan
sendiri, bila mungkin
(kelemahan otot dapat
membuat keterbatasan)
Memilih makanan dari
daftar menu
Atur makanan secara
menarik diatas nampan
Atur jadwal pemberian
makanan
Berikan makanan yang
bergizi tinggi dan
berkualitas
Perubahan proses
keluarga b.d keluarga
dengan gegantisme
Tujuan :
Mempersiapkan keluarga
untuk dapat merawat
anggota dengan
gegantisme
Keluarga dapat
beradaptasi dengan
penyakitnya
Kriteria : Keluarga dapat
mengatasi masalah yang
timbul dari adanya tanda
dan gejala yang muncul
dan memberikan atau
menyediakan lingkungan
yang sesuai dengan
kondisi klien
Intervensi :
Berikan dukungan
emosional pada keluarga
dan klien
Anjurkan orang tua untuk
mengekspresikan
perasaannya
Anjurkan klien untuk
berbagi rasa tidak
berdaya, malu, ketakutan
yang berkaitan dengan
manifestasi penyakit.
Bertindak sebagai pembela
dan penghubung klien
dan keluarga dengan
anggota tim perawatan
kesehatan lainnya
Anjurkan klien untuk
bersosialisasi dengan
lingkungan sekitar
Dorong keterlibatan klien
dalam aktivitas rekreasi
dan aktivitas pengalih
yang sesuai dengan usia.
Kelelahan b.d
hipermetabolik dengan
peningkatan kebutuhan
energi
Tujuan : menunjukkan
perbaikan kemampuan
berpartisipasi dalam
melakukan aktifitas
Kriteria :
Tidak terjadi kelelahan
yang berarti pada klien
setelah melakukan
aktivitas
Klien tidak merasa malas
saat akan melakukan
aktivitas
Intervensi :
Kaji tanda-tanda vital
Ciptakan lingkungan yang
tenang : ruangan yang
dingin, turunkan stimulasi
sensori
Sarankan klien untuk
mengurangi aktivitas dan
meningkatkan istirahat di
tempat tidur
Berikan tindakan yang
membuat klien nyaman;
sentuhan, masage.
Memberikan aktivitas
pengganti yang
menyenagkan dan tenang;
membaca, mendengarkan
radio dan menonton
televisi
Berikan obat sesuai
indikasi; sedatif
(fenobarbital )
DAFTAR PUSTAKA
1. Nettina, Sandra M.
Pedoman Praktik
Keperawatan. Alih bahasa
Setiawan dkk. Ed. 1.
Jakarta : EGC; 2001
2. Smeltzer Suzanne C. Buku
Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner &
Suddarth. Alih bahasa
Agung Waluyo, dkk.
Editor Monica Ester, dkk.
Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
3. Tucker, Susan Martin et al.
Patient care Standards :
Nursing Process,
diagnosis, And Outcome.
Alih bahasa Yasmin asih.
Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
4. Price, Sylvia Anderson.
Pathophysiology : Clinical
Concepts Of Disease
Processes. Alih Bahasa
Peter Anugrah. Ed. 4.
Jakarta : EGC; 1994
5. Reeves, Charlene J et al.
Medical-Surgical Nursing.
Alih Bahasa Joko Setyono.
Ed. I. Jakarta : Salemba
Medika; 2001
Banyak pengguna ponsel Sony Ericsson yang tidak memanfaatkan fitur yang ada didalamnya. Contoh fitur ''kawanku'' mungkin karna mereka tidak tahu bagaimana cara menggunakan. Fitur ''kawanku'' adalah fitur yang digunakan untuk chatting melalui ponsel dengan chatting, pulsa yang digunakan lebih murah dari pada SMS. Sebelum menggunakan fitur ini, GPRS di ponsel anda harus aktif. Berikut langkah-langkahnya:
1. Mempunyai alamat email. Yang akan digunakan untuk mendaftar dilayanan yang mendukung fitur kawanku, contohnya YAMIGO
2. Mendaftar untuk mendapatkan akun, yaitu di YAMIGO yang alamatnya di www.yamigo.com
3. Setelah mendaftar di YAMIGO, kita mendapatkan akun berupa username dan kata sandi yang di kirimkan ke alamat email kita waktu mendaftar
4. Melakukan settingan di ponsel, masuk ke fitur kawanku dan buat konfigurasi account baru.
5. Isi username dan kata sandi, bisa dilihat di email kita waktu mendaftar, sedangkan servernya adalah: http//www.yamigo.com/wv/control
6. Pilih profil internet yang anda pakai
7. Setelah semuanya diisi dengan benar, cobalah login, jika berhasil, artinya sudah bisa untuk memulai chatting melalui fitur kawanku.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk anda semua..
1. Mempunyai alamat email. Yang akan digunakan untuk mendaftar dilayanan yang mendukung fitur kawanku, contohnya YAMIGO
2. Mendaftar untuk mendapatkan akun, yaitu di YAMIGO yang alamatnya di www.yamigo.com
3. Setelah mendaftar di YAMIGO, kita mendapatkan akun berupa username dan kata sandi yang di kirimkan ke alamat email kita waktu mendaftar
4. Melakukan settingan di ponsel, masuk ke fitur kawanku dan buat konfigurasi account baru.
5. Isi username dan kata sandi, bisa dilihat di email kita waktu mendaftar, sedangkan servernya adalah: http//www.yamigo.com/wv/control
6. Pilih profil internet yang anda pakai
7. Setelah semuanya diisi dengan benar, cobalah login, jika berhasil, artinya sudah bisa untuk memulai chatting melalui fitur kawanku.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk anda semua..
Langganan:
Postingan (Atom)




