• Feed RSS

Pages

0
KONSEP MEDIS
A. PENGERTIAN
Bronchopneumoni
adalah salah satu jenis
pneumonia yang
mempunyai pola
penyebaran berbercak,
teratur dalam satu atau
lebih area terlokalisasi di
dalam bronchi dan
meluas ke parenkim paru
yang berdekatan di
sekitarnya. (Smeltzer &
Suzanne C, 2002 : 572)
Bronchopneomonia
adalah penyebaran daerah
infeksi yang berbercak
dengan diameter sekitar 3
sampai 4 cm mengelilingi
dan juga melibatkan
bronchi. (Sylvia A. Price &
Lorraine M.W, 1995 : 710)
Menurut Whaley & Wong,
Bronchopneumonia
adalah bronkiolus terminal
yang tersumbat oleh
eksudat, kemudian
menjadi bagian yang
terkonsolidasi atau
membentuk gabungan di
dekat lobulus, disebut
juga pneumonia lobaris.
Bronchopneumonia
adalah suatu peradangan
paru yang biasanya
menyerang di bronkeoli
terminal. Bronkeoli
terminal tersumbat oleh
eksudat mokopurulen
yang membentuk bercak-
barcak konsolidasi di lobuli
yang berdekatan. Penyakit
ini sering bersifat
sekunder, menyertai
infeksi saluran pernafasan
atas, demam infeksi yang
spesifik dan penyakit yang
melemahkan daya tahan
tubuh.(Sudigdiodi dan
Imam Supardi, 1998)
Kesimpulannya
bronchopneumonia
adalah jenis infeksi paru
yang disebabkan oleh
agen infeksius dan
terdapat di daerah
bronkus dan sekitar
alveoli.
B. ETIOLOGI
Secara umun individu
yang terserang
bronchopneumonia
diakibatkan oleh adanya
penurunan mekanisme
pertahanan tubuh
terhadap virulensi
organisme patogen.
Orang yang normal dan
sehat mempunyai
mekanisme pertahanan
tubuh terhadap organ
pernafasan yang terdiri
atas : reflek glotis dan
batuk, adanya lapisan
mukus, gerakan silia yang
menggerakkan kuman
keluar dari organ, dan
sekresi humoral setempat.
Timbulnya
bronchopneumonia
disebabkan oleh virus,
bakteri, jamur, protozoa,
mikobakteri, mikoplasma,
dan riketsia. (Sandra M.
Nettiria, 2001 : 682) antara
lain:
1. Bakteri : Streptococcus,
Staphylococcus, H.
Influenzae, Klebsiella.
2. Virus : Legionella
pneumoniae
3. Jamur : Aspergillus
spesies, Candida albicans
4. Aspirasi makanan,
sekresi orofaringeal atau
isi lambung ke dalam
paru-paru
5. Terjadi karena kongesti
paru yang lama.
Sebab lain dari pneumonia
adalah akibat flora normal
yang terjadi pada pasien
yang daya tahannya
terganggu, atau terjadi
aspirasi flora normal yang
terdapat dalam mulut dan
karena adanya
pneumocystis cranii,
Mycoplasma. (Smeltzer &
Suzanne C, 2002 : 572 dan
Sandra M. Nettina, 2001 :
682)
C. PATHOFISIOLOGI
Bronchopneumonia selalu
didahului oleh infeksi
saluran nafas bagian atas
yang disebabkan oleh
bakteri staphylococcus,
Haemophillus influenzae
atau karena aspirasi
makanan dan minuman.
Dari saluran pernafasan
kemudian sebagian
kuman tersebut masukl ke
saluran pernafasan bagian
bawah dan menyebabkan
terjadinya infeksi kuman
di tempat tersebut,
sebagian lagi masuk ke
pembuluh darah dan
menginfeksi saluran
pernafasan dengan
ganbaran sebagai berikut:
1. Infeksi saluran nafas
bagian bawah
menyebabkan tiga hal,
yaitu dilatasi pembuluh
darah alveoli, peningkatan
suhu, dan edema antara
kapiler dan alveoli.
2. Ekspansi kuman melalui
pembuluh darah
kemudian masuk ke
dalam saluran pencernaan
dan menginfeksinya
mengakibatkan terjadinya
peningkatan flora normal
dalam usus, peristaltik
meningkat akibat usus
mengalami malabsorbsi
dan kemudian terjadilah
diare yang beresiko
terhadap gangguan
keseimbangan cairan dan
elektrolit.
(Soeparman, 1991)
D. MANIFESTASI
KLINIS
Bronchopneumonia
biasanya didahului oleh
suatu infeksi di saluran
pernafasan bagian atas
selama beberapa hari.
Pada tahap awal,
penderita
bronchopneumonia
mengalami tanda dan
gejala yang khas seperti
menggigil, demam, nyeri
dada pleuritis, batuk
produktif, hidung
kemerahan, saat bernafas
menggunakan otot
aksesorius dan bisa timbul
sianosis.
(Barbara C. long,
1996 :435)
Terdengar adanya krekels
di atas paru yang sakit
dan terdengar ketika
terjadi konsolidasi
(pengisian rongga udara
oleh eksudat).
(Sandra M. Nettina, 2001 :
683)
E. PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Untuk dapat menegakkan
diagnosa keperawatan
dapat digunakan cara:
1. Pemeriksaan
Laboratorium
• Pemeriksaan darah
• Pemeriksaan sputum
• Analisa gas darah
• Kultur darah
• Sampel darah, sputum,
dan urin
2. Pemeriksaan Radiologi
• Rontgenogram Thoraks
• Laringoskopi/
bronkoskopi
F. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas
tidak efektif berhubungan
dengan inflamasi
trakeobronkial,
pembentukan edema,
peningkatan produksi
sputum. (Doenges, 1999 :
166)
2. Gangguan pertukaran
gas berhubungan dengan
perubahan membran
alveolus kapiler, gangguan
kapasitas pembawa
aksigen darah, ganggguan
pengiriman oksigen.
(Doenges, 1999 : 166)
3. Pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan
proses inflamasi dalam
alveoli. (Doenges,
1999 :177)
4. Gangguan
keseimbangan cairan dan
elektrolit berhubungan
dengan kehilangan cairan
berlebih, penurunan
masukan oral. (Doenges,
1999 : 172)
5. Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
kebutuhan metabolik
sekunder terhadap
demam dan proses
infeksi, anoreksia yang
berhubungan dengan
toksin bakteri bau dan
rasa sputum, distensi
abdomen atau gas.
( Doenges, 1999 : 171)
6. Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan
insufisiensi oksigen untuk
aktifitas sehari-hari.
(Doenges, 1999 : 170)
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E.
(1999). Rencana Asuhan
Keperawatan :Pedoman
Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian
Perawatan Pasien.
Jakarta :EGC
Nettina, Sandra M.
(1996). Pedoman Praktik
Keperawatan. Jakarta :EGC
Long, B. C.(1996).
Perawatan Madikal Bedah.
Jilid 2. Bandung :Yayasan
Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan
Soeparman, Sarwono
Waspadji. (1991). Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid II.
Jakarta :Balai Penerbit FKUI
Sylvia A. Price, Lorraine
Mc Carty Wilson. (1995).
Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit.
Jakarta :EGC
0
Beberapa hal yang membedakan antara ponsel java dan symbian adalah manajemen filenya. Pada ponsel symbian kita dapat menjelajah file sampai isi dalamnya. Tapi tidak begitu dengan ponsel java terutama Nokia. Ada beberapa file yang tidak dapat kita buka dari aplikasi file manajer. Diantaranya yaitu file .jar atau Java Archive. File inilah yang sering kita sebut permainan atau aplikasi. Karena file .jar tidak diperbolehkan untuk dikirim, maka banyak permainan dan aplikasi keren yang tidak dapat kita
bagi dengan
teman-teman.
Tapi semua itu
bukan masalah. Karena aku punya solusinya,
yang dapat membantu kamu agar
dapat mengirim
aplikasi dan
permainan dari
ponsel kamu.
Ikuti langkah-
langkah dibawah
ini
Karena file dengan
ekstensi .jar tidak
dapat dikirim,
maka kita akan
mengubah
ekstensi .jar
tersebut menjadi
ekstensi lain.
Bagaimana cara
mengubahnya?
Kamu dapat
menggunakan file
manager dari aplikasi Opera Mini Mod 3.12 untuk mengubah ekstensi file .jar tersebut. Berikut solusinya :
Download aplikasi Opera Mini Mod 3.12. Silahkan cari di mbah google Buka aplikasi tersebut lalu install, Pada menu utama tekan keypad angka 1, Disana ada fasilitas download Masukkan alamat file .jar yang akan kamu download Jangan centang ubah nama otomatis Pada
nama file, hapus ekstensi .jar menjadi tanpa
ekstensi Sekarang mulailah mendownload sampai selesai Jika selesai keluarlah dari aplikasi Opera Mini Mod 3.12 Lalu buka folder
tempat anda mendownload tadi. File tersebutsudah bisa dikirim melalui bluetooth Jika file tersebut
sudah diterima diponsel teman
kamu, pindahkan
ke folder permainan File tersebut belum bisa dimainkan, kamu harus mengubah namanya dengan
menambah ekstensi .jar pada namanya. Sekarang permainan atau aplikasi sudah bisa dimainkan di ponsel teman.
Selamat mencoba..!!
0
1. tanda Kutip (") untuk
cari Frase
Untuk Mencari kata yang
berurutan gunakanlah
tanda kutip.
Jika anda mengetikkan
kata : website favorit di
indonesia, maka google
akan mencari web yang
mengandung kata-kata
website, favorit, di, atau
indonesia.
Jika anda mengetikkan
kata : "website favorit di
indonesia", maka google
akan mencari web yang
mengandung kata-kata
website favorit di
indonesia secara
berurutan.
2. tanda Tambah (+)
Jika kita mengetikkan kata :
website+favorit+di
+indonesia, maka google
akan mencari web yang
mengandung kata-kata
website dan favorit dan di
dan indonesia. Google
tidak akan menampilkan
web yang tidak
mengandung semua kata
itu.
3. tanda kurang (-)
Bila tanda tambah untuk
menambah, maka tanda
kurang untuk
mengurangi. Misalnya
anda ingin mencari
website tapi tidak
mengandung kata favorit
maka anda dapat
menuliskan: website -
favorit. Maka google akan
menampilkan web yang
hanya mengandung kata
website tanpa
mengandung kata favorit.
4. tanda bintang (*)
Istilahnya wilcard yang
bisa digantikan apa saja
Misal anda menuliskan :
bukan hanya * tetapi juga
*. Maka google akan
menampilkan web yang
mengandung kata bukan
hanya anda tetapi juga
saya, atau bukan hanya
kamu tetapi juga saya.
5. site : command
Digunakan untuk mencari
halaman di situs tertentu.
Misalnya anda menuliskan
gossip site:detik.com.
Maka google akan ke situs
gossip di situs detik.com.
6. inurl:
Option ini digunakan
untuk mencari kata
tertentu yang "masuk"
sebagai url. Dengan
option ini, anda dapat
melakukan pencarian
folder tertentu (jika
dikombinasikan dengan
option "index of"). Contoh:
inurl:admin. Pencarian ini
akan menghasilkan url
website yang mempunyai
kata admin.
7. link
Digunakan untuk
mengetahui situs yang
mempunyai link dengan
situs tertentu. Misalnya
anda menuliskan
link:kapan lagi.com. Maka
pencarian akan
menghasilkan website
yang mempunyai link
terhadap kapanlagi.com
8. filetype:formatfile
Digunakan untuk mencari
file dengan ekstensi
tertentu.
Misalnya: "Harry Potter"
filetype:pdf. Maka hasil
pencarian akan
menghasilkan file-file
tentang Harry Potter
dengan format file pdf.
Adapun format file yang
dapat anda pilih:
Microsoft Word
Document : .doc
Portable Document
Format : .pdf
Microsoft Power Point
Slide : .pps
Microsoft Power Point
Presentation : .ppt
Microsoft Excel :.xls
Text Format : .txt
Rich Tect Format : .rtf
dll
9. intitle : kata kunci untuk
menentukan judul file.
Anda dapat menentukan
judul file yang anda cari
dengan mengetikkan
intitle:kata kunci. Misalnya:
intitle:mengejar matahari.
Kata intitle dapat juga
diganti dengan
menggunakan alintitle.
10. define : kata yang
dicari
Digunakan untuk mencari
defini dari suatu istilah.
Misalnya anda ingin
mencari definisi dari
anemia, anda cukup
menulis define:anemia.
Selamat mencoba.^^
0
Askep Hemoroid
Hemoroid
1. Pengertian
Hemoroid dalah varises
dari pleksus hemoroidalis
yang menimbulkan
keluhan keluhan dan
gejala – gejala.
Varises atau perikosa :
mekarnya pembuluh
darah atau pena (pleksus
hemoroidalis) sering
terjadi pada usia 25 tahun
sekitar 15 %.Askep
Hemoroid
2. Etiologi
Penyebab pelebaran
pleksus hemoroidalis di
bagi menjadi dua :
1. Karena bendungan
sirkulasi portal akibat
kelaian organik.
Kelainan organik yang
menyebabkan gangguan
adalah :
Hepar sirosis hepatis
Fibrosis jaringan hepar
akan meningkatkan
resistensi aliran vena ke
hepar sehingga terjadi
hepartensi portal. Maka
akan terbentuk kolateral
antara lain ke esopagus
dan pleksus
hemoroidalis .
Bendungan vena porta,
misalnya karena
trombosis
Tomur intra abdomen,
terutama didaerah velvis,
yang menekan vena
sehingga aliranya
terganggu. Misalnya
uterus grapida , uterus
tomur ovarium, tumor
rektal dan lain lain.
2. Idiopatik,tidak jelas adanya
kelaianan organik, hanya
ada faktor - faktor
penyebab timbulnya
hemoroid.
Faktor faktor yang
mungkin berperan :
Keturunan atau heriditer
Dalam hal ini yang
menurun dalah
kelemahan dinding
pembuluh darah, dan
bukan hemoroidnya.
Anatomi
Vena di daerah
masentrorium tudak
mempunyai katup.
Sehingga darah mudah
kembali menyebabkan
bertambahnya tekanan di
pleksus hemoroidalis.
Hal - hal yang
memungkinkan tekanan
intra abdomen meningkat
antara lain :
Orang yang pekerjaan
nya banyak berdiri atau
duduk dimana gaya
grapitasi akan
mempengaruhi timbulnya
hemoroid.Misalnya
seorang ahli bedah.
Gangguan devekasi miksi.
Pekerjaan yang
mengangkat benda -
benda berat.
Tonus spingter ani yang
kaku atau lemah.
Pada seseorang wanita
hamil terdapat 3 faktor
yang mempengaruhi
timbulnya hemoroid yitu :
1. Adanya tomur intra
abdpomen
2. Kelemahan pembuluh
darah sewaktu hamil
akibat pengaruh
perubahan hormonal
3. Mengedan sewaktu
partus.
Pada permulaan terjadi
varises hemoroidalis,
belum timbul keluhan
keluhan . Akan timbul bila
ada penyulit seperti
perdarahan , trombus dan
infeksi
Pada dasarnya hemoroid
di bagi menjadi dua
klasipikasi, yaitu :
1. Hemoroid interna
Merupakan varises vena
hemoroidalis superior dan
media
2. Hemoroid eksterna
merupakan varises vena
hemoroidalis inferior.
Askep Hemoroid
HEMOROID INTERNA
Gejala - gejala dari
hemoroid interna adalah
pendarahan tanpa rasa
sakit karena tidak adanya
serabut serabut rasa sakit
di daerah ini.
Hemoriud interna terbagi
menjadi 4 derajat :
Derajat I
Timbul pendarahan
varises, prolapsi / tonjolan
mokosa tidak melalui anus
dan hanya daatdi temukan
dengan proktoskopi.
Derajat II
Terdapat trombus di
dalam varises sehingga
varises selalu keluar pada
saat depikasi, tapi seterlah
depikasi selesai, tonjolan
tersebut dapat masuk
dengan sendirinya.
Derajat III
Keadaan dimana varises
yang keluar tidak dapat
masuk lagi dengan
sendirinya tetapi harus di
dorong.
Derajat IV
Suatu saat ada timbul
keaadan akut dimana
varises yang keluar pada
saat defikasi tidak dapat di
masukan lagi. Biasanya
pada derajat ini timbul
trombus yang di ikuti
infeksidan kadang kadang
timbul perlingkaran anus,
sering di sebut dengan
Hemoral Inkaresata karena
seakan - akan ada yang
menyempit hemoriod
yang keluar itu, padahal
pendapat ini salah karena
muskulus spingter ani
eksternus mempunyai
tonus yang tidak berbeda
banyak pada saat
membuka dan menutup.
Tapi bila benar terjadi.
Inkaserata maka setelah
beberapa saat akan timbul
nekrosis tapi tidak
demikiaan halnya. Lebih
tepat bila di sebut dengan
perolaps hemoroid.
HEMOROID EKSTERNA
Hemoroid eksrterna
jarang sekali berdiri
sendiri, biasanya
perluasan hemoroid
interna.
Tapi hemoroid eksterna
dapat di klasifikasikan
menjadi 2 yaitu :
1. Akut
Bentuk akut berupa
pembengkakan bulat
kebiruan pada pinggir
anus dan sebenarnya
adalah hematom,
walaupun disebut sebagai
trombus eksterna akut.
Tanda dan gejala yang
sering timbul adalah:
Sering rasa sakit dan nyeri
Rasa gatal pada daerah
hemorid
Kedua tanda dan gejala
tersebut disebabkan
karena ujung – ujung
saraf pada kulit
merupakan reseptor rasa
sakit.
2. Kronik
Hemoroid eksterna kronik
atau “Skin Tag” terdiri atas
satu lipatan atau lebih dari
kulit anus yang berupa
jaringan penyambung
dan sedikit pembuluh
darah.
Askep Hemoroid
4. Komplikasi
Terjadinya perdarahan
Pada derajat satu darah
kelur menetes dan
memancar.
Terjadi trombosis
Karena hemoroid keluar
sehinga lama - lama darah
akan membeku dan
terjadi trombosis.
Peradangan
Kalau terjadi lecet karena
tekanan vena hemoroid
dapat terjadi infeksi dan
meradang karena disana
banyak kotoran yang ada
kuman – kumannya.
Askep Hemoroid
5. Penatalaksanaan
Medis
1. Operasi herniadektomy
2. Non operatif
Untuk derajat I dan II
Diet tinggi serat untuk
melancarkan BAB.
Obat – obat suposituria
untuk membantu
pengeluaran BAB dan
untuk melunakan feces.
Anti biotik bila terjadi
infeksi.
Ijeksi skloretika ( Dilakukan
antara mokosa dan
varises dengan harapan
timbul fibrosis dan
hemoroid lalu mengecil ).
“ RubberBand Ligation “
yaitu mengikat hemoroid
dengan karet elastis kira –
kira I minggu, diharapkan
terjadi nekrosis.
Untuk derajat III dan IV
Dapat dilakuakan
Pembedahan
Dapat dilakukan
pengikatan atau ligation
Dapat dilakukan rendam
duduk
Dengan jalan
suntikan”Sklerotika” ujntuk
mengontrol pendarahan
dan kolaps (keluar)
hemoroid interna yang
kecil sampai sedang.
Askep Hemoroid
Asuhan Keperawatan
Pada pasien Dengan
Hemoroid
PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama
Pasien datang dengan
keluhan perdarahan terus
menerus saat BAB. Ada
benjolan pada anus atau
nyeri pada saat defikasi.
3. Riwayat penyakit
Riwayat penyakit sekarang
Pasien di temukan pada
beberapa minggu hanya
ada benjolan yang keluar
dan beberapa hari setelah
BAB ada darah yang
keluar menetes.
Riwayat penyakit dahulu
Apakah pernah menderita
penyakit hemoroid
sebelumnya, sembuh /
terulang kembali. Pada
pasien dengan hemoroid
bila tidak di lakukan
pembedahan akan
kembali RPD, bisa juga di
hubungkan dengan
penyakit lain seperti sirosis
hepatis.
Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota
keluaga yang menderita
penyakit tersebut
Riwayat sosial
Perlu ditanya penyakit
yang bersangkutan.
PEMERIKSAAN FISIK
Pasien di baringkan
dengan posisi
menungging dengan
kedua kaki di tekuk dan
menempel pada tempat
tidur.
1. Insfeksi
Pada insfeksi lihat apakah
ada benjolan sekitar anus
Apakah ada benjolan
tersebut terlihat pada saat
prolapsi.
Bagaiman warnaya ,
apakah kebiruaan,
kemerahan, kehitaman.
Apakah benjolan tersebut
terletak di luar ( Internal /
Eksternal ).
2. Palapasi
Dapat dilakuakan dengan
menggunakan sarung
tangan + vaselin dengan
melakuakn rektal tucher,
dengan memasukan satu
jari kedalam anus. Apakah
ada benjolan tersebut
lembek, lihat apakah ada
perdarahan.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
PRE OPERATIF
1. Resiko kekurangan nutrisi
(defisiensi zat )
berhubungan dengan
pecahnya vena plexus
hemmoroidalis ditandai
dengan perdarahan yang
terus - menerus waktu
BAB.
TUJUAN :
Terpenuhinyan kebutuhan
nutrisi ditandai dengan
tidak terdapat anemis,
perdarahan terhenti dan
BB tidak turun.
INTERVENSI
Observasi tanda-tanda
anemis
Rasionalisasi : Tanda –
tanda anemis diduga
adanya kekurangan zat
besi (Hb turun)
Diet rendah sisa atau serat
selama terjadinya
perdarahan
Rasionalisasi : Dapat
mengurangi
perangsangan pada
daerah anus sehingga
tidak terjadi perdarahan.
Berikan penjelasan tentang
pentingnya diet
kesembuhan penyakitnya.
Rasionalisasi : Pendidikan
tentang diet, membantu
keikut sertaan pasien
dalam meningkatkan
keadaan penyakitnya.
Beri kompers es pada
daerah terjadinya
perdarahan
Rasionalisasi : Pasien
dengan pecahnya vena
plexus hemoriodalis perlu
obat yang dapat
membantu pencegahan
terhadap perdarahan yang
mememrlukan penilaian
terhadap respon secara
periodik.
Beri obat atau terapi sesuai
dengan pesanan dokter
Rasionalisasi : Pasien
dengan pecahnya vena
flexus hemmoroidalis
perlu obat yang dapat
membantu pencegahan
terhadap perdarahan yang
memerlukan penilayan
terhadap respon obat
tersebut secara periodik.
2. Gangguan rasa nyaman
berhubungan dengan
adanya massa anal atau
anus, yang ditandai
benjolan didaerah anus,
terasa nyeri dan gatal
pada daerah anus
TUJUAN :
Terpenuhinya rasa
nyaman dengan kriteria
nyeri berkurang rasa gatal
berkurang massa
mengecil.
INTERVENSI :
Berikan randam duduk
Rasionalisasi : Menurunkan
ketidak nyamanan lokal,
menurunkan edema dan
meningkatkan
penyembuhan.
Berikan pelicin pada saat
mau BAB
Rasionalisasi : Membantu
dalam melancarkan
defikasi sehingga tidak
perlu mengedan.
Beri diet randah sisa
Rasionalisasi : Mengurangi
rangsangan anus dan
melemahkan feses.
Anjurkan pasien agar
jangan bannyak berdiri
atau duduk ( harus dalam
keadaan seimbang).
Rasionalisasi : Gaya
gravitasi akan
mempengaruhi timbulnya
hemoroid dan duduk
dapat meningkatkan
tekanan intra abdomen.
Observasi keluhan pasien
Rasionalisasi : Membantu
mengevaluasi derajat
ketidak nyamanan dan
ketidak efektifan tindakan
atau menyatakan
terjadinya komplikasi.
Berikan penjelasan tentang
timbulnya rasa nyeri dan
jelaskan dengan singkat
Rasionalisasi : Pendidikan
tentang hal tersebut
membantu dalam keikut
sertaan pasien untuk
mencegah / mengurangi
rasa nyeri.
Beri pasien suppositoria
Rasionalisasi : Dapat
melunakan feces dan
dapat mengurangi pasien
agar tidak mengejan saat
defikasi.
3. Personal hygene pada
anus kurang
berhubungan dengan
massa yang keluar pada
daerah eksternal.
TUJUAN :
Terjaga kebersihan anus
dengan kriteria tidak
terjadi infeksi tidak terjadi
gatal - gatal.
INTERVENSI :
Berikan sit bath dengan
larutan permagan 1 / 1000
% pada pagi dan sore
hari. Lakukan digital
( masukan prolaps dalam
tempat semula setelah di
bersihkan )
Rasionalisasi :
Meningkatkan kebersihan
dan memudahkan
terjadinya penyembuhan
prolaps.
Obserpasi keluhan dan
adanya tanda- tanda
perdarahan anus
Rasionalisasi : Peradangan
pada anus menandakan
adanya suatu infeksi pada
anus
Beri penjelasan cara
membersihkan anus dan
menjaga kebersihanya
Rasionalisasi :
Pengetahuan tentang cara
membersihkan anus
membantu keikutsertaan
pasien dalam
mempercepat
kesembuhanya.
POST OPERATIF
1. Gangguan rasa nyaman
(Nyeri) pada luka operasi
berhubungan dengan
adanya jahitan pada luka
operasi dan terpasangnya
cerobong angin.
TUJUAN :
Terpenuhinya rasa
nyaman dengan kriteria
tidak terdapat rasa nyeri,
dan pasien dapat
melakukan aktivitasd
ringan.
INTERVENSI :
Beri posisi tidur yang
menyenangkan pasien.
Rasionalisasi : Dapat
menurunkan tegangan
abdomen dan
meningkatkan rasa
kontrol.
ganti balutan setiap pagi
sesuai tehnik aseptik
Rasionalisasi : Melindungi
pasien dari kontaminasi
silang selama penggantian
balutan. Balutan basah
bertindak sebagai
penyerap kontaminasi
eksternal dan
menimbulkan rasa tidak
nyaman.
Latihan jalan sedini
mungkin
Rasionalisasi : Dapat
menurunkan masalah
yang terjadi karena
imobilisasi.
Observasi daerah rektal
apakah ada perdarahan
Rasionalisasi : Perdarahan
pada jaringan, imflamasi
lokal atau terjadinya infeksi
dapat meningkatkan rasa
nyeri.
Cerobong anus dilepaskan
sesuai advice dokter
(pesanan)
Rasionalisasi :
Meningkatkan fungsi
fisiologis anus dan
memberikan rasa nyaman
pada daerah anus pasien
karena tidak ada
sumbatan.
Berikan penjelasan tentang
tujuan pemasangan
cerobong anus (guna
cerobong anus untuk
mengalirkan sisa-sisa
perdarahan yang terjadi
didalam agar bisa keluar).
Rasionalisasi :
Pengetahuan tentang
manfaat cerobong anus
dapat membuat pasien
paham guna cerobong
anus untuk kesembuhan
lukanya.
2. Resikol terjadinya infeksi
pada luka berhubungan
dengan pertahanan
primer tidak adekuat.
TUJUAN :
Tidak terjadinya dengan
kriteria tidak terdapat
tanda-tanda radang luka
mengering
INTERVENSI :
Observasi tanda vital tiap
4 jam
Rasionalisasi : Respon
autonomik meliputi TD,
respirasi, nadi yang
berhubungan denagan
keluhan / penghilang
nyeri . Abnormalitas tanda
vital perlu di observasi
secara lanjut.
Obserpasi balutan setiap 2
– 4 jam, periksa terhadap
perdarahan dan bau.
Rasionalisasi : Deteksi dini
terjadinya proses infeksi
dan / pengawasan
penyembuhan luka oprasi
yang ada sebelumnya.
Ganti balutan dengan
teknik aseptik
Rasionalisasi : Mencegah
meluas dan membatasi
penyebaran luas infeksi
atau kontaminasi silang.
Bersihkan area perianal
setelah setiap depfikasi
Rasionalisasi : Untuk
mengurangi / mencegah
kontaminasi daerah luka.
Berikan diet rendah serat/
sisa dan minum yang
cukup
Rasionalisasi : Dapat
mengurangi ransangan
pada anus dan mencegah
mengedan pada waktu
defikasi.
3. Kurang pengetahuan yang
berhubungan dengan
kurang informasi tentang
perawatan dirumah.
TUJUAN :
Pasien dapat menyatakan
atau mengerti tentang
perawatan dirumah.
INTERVENSI :
Diskusikan pentingnya
penatalaksanaan diet
rendah sisa.
Rasionalisasi: Pengetahuan
tentang diet berguna
untuk melibatkan pasien
dalam merencanakan diet
dirumah yang sesuai
dengan yang dianjurkan
oleh ahli gizi.
Demontrasikan perawatan
area anal dan minta pasien
menguilanginya
Rasionalisasi: Pemahaman
akan meningkatkan kerja
sama pasien dalam
program terapi,
meningkatkan
penyembuhan dan proses
perbaikan terhadap
penyakitnya.
Berikan rendam duduk
sesuai pesanan
Rasiopnalisasi:
Meningkatkan kebersihan
dan kenyaman pada
daerah anus (luka atau
polaps).
Bersihakan area anus
dengan baik dan
keringkan seluruhnya
setelah defekasi.
Rasionalisasi: Melindungi
area anus terhadap
kontaminasi kuman-
kuman yang berasal dari
sisa defekasi agar tidak
terjadi infeksi.
Berikan balutan
Rasionalisasi : Melindungi
daerah luka dari
kontaminasi luar.
Diskusikan gejala infeksi
luka untuk dilaporkan
kedokter.
Rasionalisasi : Pengenalan
dini dari gejala infeksi dan
intervensi segera dapat
mencegah progresi situasi
serius.
Diskusikan
mempertahankan difekasi
lunak dengan
menggunakan pelunak
feces dan makanan laksatif
alami.
Rasionalisai : Mencegah
mengejan saat difekasi
dan melunakkan feces.
Jelaskan pentingnya
menghindari mengangkat
benda berat dan
mengejan.
Rasionalisasi : Menurunkan
tekanan intra abdominal
yang tidak perlu dan
tegangan otot.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dr. M.T. Dardjat, 1987.
Kumpulan Kuliah ilmu
Bedah Khusus. Penerbit
Aksara Medisina, Salemba
Jakarta.
2. Syvia Anderson Price,
1991. Patofisiologi Konsep
Klinik Proses-Proses
Penerbit buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
3. Susan Martin Tucker,
1998. Standar Perawatan
Pasien, Edisi V Vol 2.
Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
4. Dr. Sumitro Arkanda,
1987. Ringkasan Ilmu
Bedah, Penerbit Bina
Aksara.
5. Purnawan Junadi, 1982.
Kapita Selekta Kedokteran
Edisi Kedua, Penerbit
Media Aesculavius,
Jakarta.
6. Doenges Moorhouse
Geissle, 1999. Rencana
Asuhan Keperawatan Ed.
3 Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
0
Jika Anda ingin mencari nama seseorang di situs jejaring social seperti
Facebook, Friendster,
Hi5, Myspace maupun
Twitter tanpa repot-
repot harus masuk
terlebih dulu di masing-
masing situs tersebut,
maka anda bisa
memanfaatkan search
engine google. Dengan
menggunakan beberapa
keyword tertentu anda
bisa melakukan pencarian
dengan sangat mudah
menggunakan google
untuk menemukan
teman-teman anda di
situs jejaring sosial
(Social Networking).
Berikut beberapa keyword
yang bisa anda gunakan :
1. Mencari nama
seseorang di
Facebook
i n t i t l e : " n a m a
y a n g a n d a
c a r i "
s i t e : f a c e b o o k . c o m
2. Mencari nama
seseorang di
Friendster
i n t i t l e : " n a m a
y a n g a n d a
c a r i "
s i t e : p r o f i l e s . f r i e n d s t e r . c o m
3. Mencari nama
seseorang di Hi5
i n t i t l e : " n a m a
y a n g a n d a
c a r i "
s i t e : h i 5 . c o m
4. Mencari nama
seseorang di Myspace
i n t i t l e : " n a m a
y a n g a n d a
c a r i " " o n
M y S p a c e "
s i t e : m y s p a c e . c o m
5. Mencari nama
seseorang di Twitter
i n t i t l e : " n a m a
y a n g a n d a
c a r i " " o n
T w i t t e r "
s i t e : t w i t t e r . c o m
Selamat Mencoba !!
0
LAPORAN
PENDAHULUAN
TONSILLITIS
A.Pengertian
Tonsilitis merupakan
peradangan pada tonsil
yang disebabkan oleh
bakteri atau kuman
streptococcusi beta
hemolyticus,
streptococcus viridans
dan streptococcus
pyogenes dapat juga
disebabkan oleh virus,
pada tonsilitis ada dua
yaitu :
-Tonsilitis Akut dan
-Tonsilitis Kronik
B.Etiologi
Disebabkan oleh kuman
streptococcus beta
hemolyticus,
streptococcus viridans
dan streptococcus
pyogenes yang menjadi
penyebab terbanyak dapat
juga disebabkan oleh
virus.
Faktor predisposis adanya
rangsangan kronik (rokok,
makanan), pengaruh
cuaca, pengobatan radang
akut yang tidak adekuat
dan higiene, mulut yang
buruk.
C.Patofisiologi
Penyebab terserang
tonsilitis akut adalah
streptokokus beta
hemolitikus grup A.
Bakteri lain yang juga
dapat menyebabkan
tonsilitis akut adalah
Haemophilus influenza
dan bakteri dari golongan
pneumokokus dan
stafilokokus. Virus juga
kadang – kadang
ditemukan sebagai
penyebab tonsilitis akut.
1.Pada Tonsilitis Akut
Penularan terjadi melalui
droplet dimana kuman
menginfiltrasi lapisan Epitel
kemudian bila Epitel ini
terkikis maka jaringan
Umfold superkistal
bereaksi dimana terjadi
pembendungan radang
dengan infiltrasi leukosit
polimorfo nuklear.
2.Pada Tonsilitif Kronik
Terjadi karena proses
radang berulang maka
Epitel mukosa dan
jaringan limpold terkikis,
sehingga pada proses
penyembuhan jaringan
limpold, diganti oleh
jaringan parut. Jaringan ini
akan mengerut sehingga
ruang antara kelompok
melebar (kriptus) yang
akan di isi oleh detritus
proses ini meluas hingga
menembus kapsul dan
akhirnya timbul
purlengtan dengan
jaringan sekitar fosa
tonsilaris.
Jadi tonsil meradang dan
membengkak, terdapat
bercak abu – abu atau
kekuningan pada
permukaannya, dan jika
berkumpul maka
terbentuklah membran.
Bercak – bercak tersebut
sesungguhnya adalah
penumpukan leukosit, sel
epitel yang mati, juga
kuman – kuman baik
yang hidup maupun yang
sudah mati.
D. Manisfestasi Klinis
Keluhan pasien biasanya
berupa nyeri
tenggorokan, sakit
menelan, dan kadang –
kadang pasien tidak mau
minum atau makan lewat
mulut. Penderita tampak
loyo dan mengeluh sakit
pada otot dan persendian.
Biasanya disertai demam
tinggi dan napas yang
berbau, yaitu :
• Suhu tubuh naik sampai
40 oC.
• Rasa gatal atau kering
ditenggorokan.
• Lesu.
• Nyeri sendi, odinofagia.
• anoreksia dan otolgia.
• Bila laring terkena suara
akan menjadi serak.
• Tonsil membengkak.
• Pernapasan berbau.
E. Komplikasi
• otitis media akut.
• Abses parafaring.
• abses peritonsil.
• Bronkitis,
• Nefritis akut, gout /
artritis, miokarditis.
• Dermatitis.
• Pruritis.
• Furunkulosis.
F. Pemeriksaan Penunjang
• Kultur dan uji resistensi
bila perlu.
• Kultur dan uji resistensi
kuman dari sediaan apus
tonsil.
G. Penatalaksanaan Medis
Sebaiknya pasien tirah
baring. Cairan harus
diberikan dalam jumlah
yang cukup, serta makan
– makanan yang berisi
namun tidak terlalu padat
dan merangsang
tenggorokan. Analgetik
diberikan untuk
menurunkan demam dan
mengurangi sakit kepala.
Di pasaran banyak
beredar analgetik
(parasetamol) yang sudah
dikombinasikan dengan
kofein, yang berfungsi
untuk menyegarkan
badan.
Jika penyebab tonsilitis
adalah bakteri maka
antibiotik harus diberikan.
Obat pilihan adalah
penisilin. Kadang – kadang
juga digunakan
eritromisin. Idealnya, jenis
antibiotik yang diberikan
sesuai dengan hasil
biakan. Antibiotik diberikan
antara 5 sampai 10 hari.
Jika melalui biakan
diketahui bahwa sumber
infeksi adalah
Streptokokus beta
hemolitkus grup A, terapi
antibiotik harus
digenapkan 10 hari untuk
mencegah kemungkinan
komplikasi nefritis dan
penyakit jantung rematik.
Kadang – kadang
dibutuhkan suntikan
benzatin penisilin 1,2 juta
unit intramuskuler jika
diperkirakan pengobatan
orang tidak adekuat.
• Terapi obat lokal untuk
hegiene mulut dengan
obat kumur atau obat
isap.
• Antibiotik golongan
penisilin atau sulfonamida
selama 5 hari.
• Antipiretik.
• Obat kumur atau obat
isap dengan desinfektan.
• Bila alergi pada penisilin
dapat diberikan eritromisin
atau klindamigin.
DAFTAR PUSTAKA
Belden MD. THT : www.
emedicine. com. Last
Updated 24 Juni 2003.
Mansjoer, Arif. 2000.
Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi 3. FKUI. Jakarta.
Saten S. Chalazion. Taken
From : www. emedicine.
com. Last Updated : 5 Juli
2007
0
A.KONSEP DASAR MEDIK
1.1Pengertian
Katarak adalah opasitas
lensa kristalina yang
normalnya jernih dan
merupakan suatu daerah
yang berkabut dan keruh
didalam lensa.
Pada stadium dini
pembentukan katarak,
protein dalam serabut-
serabut lensa dibawah
kapsul mengalami
denaturasi. Lebih lanjut
protein tadi berkoagul;asi
membentuk daerah keruh
menggantikan serabut-
serabut protein lensa yang
dalam keadaan normal
seharusnya transparan.
Bila suatu katarak telah
menghalangi cahaya
dengan hebat sehingga
sangat mengganggu
penglihatan, maka
keadaan itu perlu
diperbaiki dengan cara
mengangkat lensa melalui
operasi. Bila ini dilakukan,
maka mata kehilangan
sebagaian besar daya
biasnya, dan harus
digantikan dengan lensa
konveks berdaya penuh
didepan mata, atau
sebuah lensa buatan
ditanam didalam mata
pada tempat lensa
dikeluarkan.
1.2Etiologi
Sebagian besar katarak
yang disebut katarak
senilis, terjadi akibat
perubahan-perubahan
degeneratif yang
berhubungan dengan
pertambahan usia.
Pajanan terhadap sinar
matahari selama hidup,
alkohol, merokok dan
asupan vitamin
antioksidan yang kurang
dalam jangka waktu yang
lama serta predisposisi
herediter berperan dalam
munculnya katarak senilis.
Katarak dapat timbul pada
usia berapa saja setelah
trauma lensa, infeksi
mata, atau akibat pajanan
radiasi atau obat tertentu.
Janin yang tepajan virus
rubella dapat mengalami
katarak. Para pengidap
diabetes melitus kronik
sering mengalami katarak,
yang kemungkinan besar
disebabkan oleh
gangguan aliran darah ke
mata dan perubahan
penanganan dan
metabolisme glukosa.
1.3Patofisiologi dan
Dampak Pada
penyimpangan KDM
Lensa yang normal adalah
struktur yang posterior
iris yang jernih,
transparan, berbentuk
seperti kancing baju,
mempunyai kekuatan
refraksi yang besar. Lensa
mengandung tiga
komponen anatomis.
Pada zona sentral terdapat
nukleus, di perifer ada
korteks, dan yang
mengelilingi keduanya
adalah kapsul anterior dan
posterior. Dengan
bertambahnya usia,
nukleus mengalami
perubahan warna menjadi
coklat kekuningan. Di
sekitar opasitas terdapat
densitas seperti duri di
anterior dan posterior
nukleus. Opasitas pada
kapsul posterior
merupakan bentuk katarak
yang paling bermakna
nampak seperti kristal
salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia
dalam lensa
mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan
pada serabut halus
multipel (zunula) yang
memanjng dari badan
silier ke sekitar daerah
diluar lensa, misalnya
dapat menyebabkan
penglihatan mengalami
distorsi. Perubahan kimia
dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi,
sehingga mengabutkan
pandangan dengan
menghambat jalannya
cahaya ke retina. Salah
satu teori menyebutkan
terputusnta protein lensa
normal terjadi disertai
influks air kedalam lensa.
Proses ini mematahkan
serabut lensa yang tegang
dan mengganggu
transmisi sinar. Teori lain
mengatakan bahwa suatu
enzim mempunyai peran
dalam melindungi lensa
dari degenerasi. Jumlah
enzim akan menurun
dengan bertambahnya
usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien yang
menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi
bilateral, namun
mempunyai kecepatan
yang berbeda. Dapat
disebabkan oleh kejadian
trauma maupun sistemis,
seperti diabetes melitus,
namun merupakan
konsekuensi dari proses
penuaan yang normal.
Kebanyakan katarak
berkembang secara kronik
dan matang ketika
seseorang memasuki
dekade ke tujuh. Katarak
dapat bersifat kongenital
dan harus diidentifikasi
awal, karena bila tidak
terdiagnosis dapat
menyebabkan ambliopia
dan kehilangan
penglihatan permanen.
1.4Manifestasi Klinis
 Penurunan ketajaman
penglihatan, silau dan
gangguan fungsional
sampai derajat tertentu.
pengembunan seperti
mutiara keabuanpada
pupil sehingga retina tidak
akan tampak dengan
oftalmoskop.
Pandangan kabur atau
redup, menyilaukan
dengan distorsi bayangan
dan susah melihat di
malam hari.
 Pupil yang normalnya
hitam akan tampak
kekuningan, abu-abu atau
putih.
1.5Diagnostik Tes Yang
Lasim
Selain uji mata yang biasa,
keratometri dan
pemeriksaan lampu slit
dan oftalmoskopis, maka
A-scan ultrasound
(echography) dan hitung
sel endotel sangat
berguna sebagai alat
diagnostik, khususnya bila
dipertimbangkan akan di
lakukan pembedahan.
Dengan hitung sel endotel
2000 sel/mm3, pasien
merupakan kandidat yang
baik untuk dilakukan
fakoemulsifikasi dan
implantasi IOL.
1.6Penatalaksanaan Medis
Pengobatan berupa
eksisi seluruh lensa untuk
diganti oleh lensa buatan,
atau fragmentasi lensa
dengan ultrasound atau
laser, diikuti oleh aspirasi
fragmen dan penggantian
lensa.
Pembedahan
diindikasikasikan bagi
yang memerlukan
penglihatan akut untuk
bekerja atau keamanan.
ASUHAN KEPERAWATAN
KATARAK
PENGKAJIAN
Data-data yang perlu dikaji
pada asuha keperawatan
dengan katarak adalah :
1. Riwayat perjalanan
penyakit
a. Pola aktivitas/istirahat
Gejala : Perubahan
aktivitas biasanya/hoby
sehubungan dengan
gangguan penglihatan.
b. Pola nutrisi
Gejala : Mual/muntah
(glaukoma akut)
c. Pola neurosensori
Gejala : Gangguan
penglihatan (kabur/tak
jelas), sinar terang
menyebabkan silau
dengan kehilangan
bertahap penglihatan
perifer,kesulitan
memfokuskan kerja
dengan dekat/ merasa
diruang gelap.
d. Pola penyuluhan/
pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga
glaukoma, diabetes,
gangguan sistem
vaskuler, riwayat stress,
alergi, ketikseimbangan
endokrin, terpajan pada
radiasi, steroid/toksisitas
fenotiazin.
DIAGNOSA
KEPERWATAN
1.Ketakutan atau ansietas
yang berhubungan
dengan kerusakan sensori
dan kurangnya
pemahaman mengenai
perawatan pascaoperatif,
pemberian obat.
2.Resiko terhadap cedera
yang berhubungan
dengan kerusakan
penglihatan atau kurang
pengetahuan.
3.Resiko tinggi terhadap
infeksi berhubungan
dengan prosedur invasif
(bedah pengangkatan
katarak)
4.Nyeri yang
berhubungan dengan
trauma peningkatan
TIO,inflamasi intervensi
bedah, atau pemberian
tetes mata dilator.
5.Potensial terhadap
kurang perawatan diri
yang berhubungan
dengan kerusakan
penglihatan.
INTERVENSI
KEPERAWATAN
1.Ketakutan atau ansietas
yang berhubungan
dengan kerusakan sensori
dan kurangnya
pemahaman mengenai
perawatan pascaoperatif,
pemberian obat.
Kriteria evaluasi:
menurunkan stress
emosional, ketakutan dan
depresi, penerimaan
pembedahan dan
pemahaman instruksi.
Kaji derajat dan durasi
gangguan visual. Dorong
percakapan untuk
mengetahui keprihatinan,
perasaan dan tingkat
pemahaman.
R/:Informasi dapat
menghilangkan ketakutan
yang tidak diketahui.
Orientasika pasien pada
lingkungan yang baru.
R/: pengenalan terhadap
lingkungan membantu
mengurangi ansietas dan
meningkatkan ansietas.
 Jelaskan rutinitas operatif
R/: pasien yang telah
mendapat mendapat
informasi lebih mudah
menerima penanganan
dan mematuhi instruksi.
Jelaskan intervensi
sedetil-detilnya
R/: pasien yang
mengalami gangguan
visual bergantung pada
masukan indera lai untuk
mendapatkan informasi.
Dorong untuk
menjalankan kebiasaa
hidup seharihari bila
mampu.
R/: perawatan diri dan
kemandirian akan
meningkatkan rasa sehat
Dorong partisipasi
keluarga atau orang yang
berarti dalam perawatan
pasien.
R/: pasien mungkin tak
mampu melakukan
semua tugas sehubungan
dengan penanganan dan
perawatan diri.
Dorong partisipasi dalam
aktivitas sosial dan
pengalihan bila
memungkinkan.
R/:isolasi sosial dan waktu
luang yang terlau lama
dan menimbulkan
perasaan negatif.
2.Resiko terhadap cedera
yang berhubungan
dengan kerusakan
penglihatan atau kurang
pengetahuan.
Kriteria evaluasi: dapat
menurunkan resiko
terjadinya cedera.
Bantu pasien ketika
mampu melakukan
ambulasi pascaoperasi
sampai stabil dan sampai
mencapai penglihatan dan
ketrampilan koping yang
memadai.
R/: menurunkan resiko
jatuh atau cedera ketika
langkah sempoyongan
atau tidak mempunyai
ketrampilan koping untuk
kerusakan penglhatan.
Bantu pasien manata
lingkungan
R/: memfasilitasi
kemendirian dan
menurunkan resiko
cedera
Orientasikan pasien pada
ruangan
R/: meningkatkan
keamanan mobilitas
dalam lingkungan.
Bahas perlunya
penggunaan perisai metal
atau kacamata bila
diperlukan.
R/: temeng logam atau
kaca mata melindungi
mata terhadap cedera.
Jangan memberikan
tekanan pada mata yang
terkena trauma
R/:tekanan pada mata
dapat menyebabkan
kerusakan serius lebih
lanjut.
Gunakan prosedur
yanga memadai ketika
memberikan obat mata.
R/: cedera dapat terjadi
bila wadah obat
menyentuh mata.
3. Resiko tinggi terhadap
infeksi berhubungan
dengan prosedur invasif
(bedah pengangkatan
katarak)
Kriteria evaluasi :
menunjukan peningkatan
penyembuhan luka tepat
waktu, bebas drainase
purulen, eritema dan
demam.
Diskusikan pentingnya
mencuci tangan sebelum
menyentuh/mengobati
mata.
R/:menurunkan jumlah
bakteri pada tangan,
mencegah kontaminasi
area operasi.
Gunakan teknik yang
tepat untuk embersihkan
mata dari dalam keluar
dengan tisu basah/bola
kapas untuk tiap usapan,
ganti balutan, dan
masukan lensa kontak bila
menggunakan.
R/:tehnik aseptik
menurunkan resiko
penyebaran bakteri dan
kontaminasi silang.
Tekankan untuk tidak
menyentuh/ menggaruk
mata yang dioperasi.
R/: mancegah kontaminasi
dan kerusakan sisi operasi
Observasi tanda
terjadinya infeksi.
R/:Infeksi mata terjadi 2-3
hari setelah prosedur dan
memerlukan upaya
intervensi.
Berikan obat sesuai
indikasi.
R/:Sediaan topikal
digunakan secara
profilaksis, dimana terapi
lebih diperlukan bila terjadi
infeksi.
4.Nyeri yang
berhubungan dengan
trauma peningkatan
TIO,inflamas intervensi
bedah, atau pemberian
tetes mata dilator.
Kriteria evaluasi:
Berikan obat untuk
mengontrol nyeri dan TIO
sesuai resep
R/;pemakaian obat sesuai
resep akan mengurangi
nyeri dan TIO serta
meningkatkan rasa
nyaman.
Berikan kompres dingin
sesuai permintaan untuk
trauma tumpul
R/: mengurangi edema
akan mengurangi nyeri.
Kurangi tingkat
pencahayaan, cahaya
diredupkan, diberi tirai/
kain.
R/: tingkat pencahayaan
yang lebih rendah lebih
nyaman setelah
pembedahan.
Dorong penggunaan
kaca mata hitam pada
cahaya kuat.
R/: cahaya yang kuat
menyebabkan rasa tak
nyaman setelah
penggunaan tetes mata
dilator.
5.Potensial terhadap
kurang perawatan diri
yang berhubungan
dengan kerusakan
penglihatan.
Kriteria evaluasi; Klien
dapat memenuhi
kebutuhan perawatan diri
Beri instruksi pada pasien
atau orang terdekat
mengenai tanda dan
gejala koplikasi yang
harus dilaporkan segera
kepada dokter
R/:penemuan dan
penenganan awal
komplikasi dapat
mengurangi resiko
kerusaka lebih lanjut.
Beri instruksi lisan dan
tertulis untuk pasien dan
orang yang berarti
mengenai tehnik yang
benar memberikan obat.
R/:pemakaian teknik yang
benar akan mengurangi
resiko infeksi dan cedera
mata.
Evaluasi perlunya
bantuan setelah
pemulangan
R/:sumber daya harus
tersedia untuk layanan
kesehatan, pendamping
dan teman dirumah.
Ajari pasien dan keluarga
teknik panduan
penglihatan.
R/:memungkinkan
tindakan yang aman
dalam lingkungan